Minggu, 14 April 2013

Rumahku Bersahabat Dengan Alam


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Apa kriteriamu tentang rumah yang nyaman? Hm, mungkin sebuah rumah mewah dengan model terbaru, ya. Atau rumah besar dengan peralatan modern di dalamnya. Bagiku tidak seperti itu. Rumah yang nyaman bagi aku adalah rumah yang bersahabat dengan lingkungan atau alam. Tepatnya, yang bisa mendukung semua aktivitas aku. Dan juga selalu kurindukan jika aku berada di luar sana. 


Seperti rumahku saat ini. Aneka pepohonan di depannya sanggup menetralisir kepekatan mataku karena setiap hari berinteraksi dengan layar monitor. Otak menjadi segar dan badan refresh karena menghirup aroma bunga, dedaunan, tanah dan unsur alam lainnya. Hijaunya dedaunan sanggup membuat mata relak dari kelelahan. 

Cerianya rumahku. Mulai dari pagi sampai siang, burung-burung bernyanyi bersahutan. Mereka bertengger, berlompatan di pohon mangga tepat depan kamarku. Ada tiga buah pohon mangga di depan rumahku. Tetapi pohon mangga di depan kamarkulah yang paling unik. 
Dari jendela aku bisa mengintip aneka burung bermain di sana. Warnanya macam-macam. Abu-abu bercampur coklat, kuning bercampur hitam, merah menyala dengan suara yang berbeda-beda. Sungguh, aku suka sekali. Tanpa memelihara burung, sudah banyak kicauan mewarnai rumah kami.

Oh ya, inilah keunikan pohon mangga depan kamarku. Jika burung peliharaan tetangga lepas, pasti hinggapnya di sana. Sering aku mencoba menangkapnya, tapi susah. Burung-burung itu harganya jutaan. Di pohon manggaku mereka bersuara kencang. Jadi, kalau tetangga kehilangan burungnya, pasti mereka mencarinya ke pohon mangga itu. Termasuk burung hantu, senang sekali tuh mampir di sana. Kuuk....waktu pertama kali bunyi, anakku heran. Aku jelaskan kalau itu suara  burung hantu.  

Anakku banyak heran dengan rumahku yang sederhana itu. Pernah sambil tersenyum ia bilang kalau rumah kami adalah rumah kebun binatang. Alasannya, ada lintah, keong, kecoa, jangkrik, kaki seribu, kumbang, kecoa, tikus, lebah dan ular masuk rumah. Bahkan ia sempat bingung, ketika begitu sibuknya aku memotret kupu-kupu besar yang kesasar masuk rumah.

Tetapi kemarin sambil tersenyum anakku bilang kalau rumah kami mirip hutan. Pasti bukan karena banyak pepohonan besar. Sebagian banyak sudah kubuang. Aku bahkan menyulapnya menjadi taman. Hal itu karena ada binatang yang bersuara keras berbunyi terus tiap hari. Kalau dalam bahasa Sunda namanya Turaes. Ya, semacam binatang yang biasa ada di hutan.

Ada banyak keunikan memang dengan halaman rumahku itu. Kalau musim mangga, sering ada orang memborong manggaku. Lumayanlah, buat jajan. Sudah beberapa kali aku panen pisang. Sekarang malah berbuah dua. Pisangnya besar-besar. Dan aku siap bagikan pada saudara, teman dan tetanggaku. 

Aku juga menanam cabe, tomat, lengkuas dan lainnya, suatu hari aku butuh bumbu, aku mengambilnya. Tapi seringnya lari ke warung, karena malas menggali umbinya. Hehe....

Rumahku terletak di belakang. Sebenarnya merupakan bagian dari rumah keluarga yang dibagi secara waris. Bentuknya sederhana sekali. Jadi semua tetangga dekatku adalah saudaraku. Di sampingku misalnya, rumah adik perempuanku. Di depannya, rumah adik bungsuku, paling depan rumah mama dan adik keduaku. Dan menyebrang jalan rumah adik laki-lakiku yang lain. 

Uniknya, sering ada tamu tidak diundang mampir ke tempat kami. Dia masuk lewat pintu gerbang ketika gerbangnya terbuka sedikit. Tamu tidak diundang itu adalah ular. Kalau sudah ada mahluk satu itu, kita semua bisa gegar. Apalagi kalau sudah masuk rumah. Tak ada satupun dari kami yang berani mengusirnya. 

Oh ya, ada tetangga di luar gerbang. Ia mempunyai pohon jengkol yang sangat besar. Daun-daunnya terbang sampai ke halaman rumah kami. Pernah dia datang ke rumah adikku dan komplain. Katanya air dari rumah adik jatuh ke halaman kosong kepunyaannya. Akibatnya halamannya jadi becek dan berkubang. Adikku bilang, kalau pembuangan air di genting itu jatuh ke depan, hanya daun-daun jengkol membuat saluran air tersumbat dan selain air tumpah ke halamannya,  juga menyebabkan rumah adik jadi bocor.

Ada pengalaman berharga yang pantas kita petik dari teguran tetangga itu. Bahwa kalau kita mau menegur sesuatu sebaiknya koreksi dulu kesalahan siapa. Jangan asal labrak saja. Pada akhirnya kan bisa malu sendiri. Mau ditaruh dimana itu muka?

Kali lain adik iparnya tetangga komplain lagi. Waktu itu mama sedang memperbaiki genting. Trus bahan-bahannya tertimbun di bawah memenuhi gang. Dengan arogansinya ia menegur pegawai. Memperingatkan agar jangan sembarangan membuang brangkal. Tetapi walau polisi, pegawai berani menegakkan kebenaran. Dia mengatakan kalau gang itu adalah kepunyaan ibu. Jadi ibu berhak berbuat apa saja atas jalan itu. Dia diam dan berlalu tanpa banyak kata.

Itulah dinamikan bertetangga. Kita sendiri tak pernah komplain menyapu daun yang diterbangkan angin ke rumah kami. Bahkan menyumbat saluran air di genting. Karena kita sadar ada seni dalam bertetangga. Dengan tetangga wajib bertenggang rasa karena siapa lagi yang bisa menolong kita dengan cepat jika terjadi musibah. Pasti tetangga. Betul, kan?



***

Posting Komentar