Minggu, 14 April 2013

Dialah Wanita Besi Versi Indonesia



Aku melihat begitu banyak persamaan antara  Margaret Thatcher dan wanita yang sangat aku kagumi ini.  Keduanya sama-sama mempunyai kemauan yang keras.  Keduanya unik, karena menjadi pemimpin wanita yang hebat dan berwibawa. Kalau  Margaret Thatcher dijuluki Wanita Besi oleh jurnalis Soviet karena menentang komunis, maka wanita  yang sangat aku kagumi ini tak mempunyai julukan apa-apa, kecuali pahlawan nasional Indonesia. Tapi bagiku, ialah wanita besi versi Indonesia yang semangat dan perjuangannya luar biasa.


Aku melihat bukti nyata pada sikapnya. Bahwa wanita itu bukanlah mahluk yang lemah. Yang hanya bisa diam dan tidak mengerti apa-apa. Ketika keadaan genting, tanggung jawab beratpun diembannya. Ia memimpin sendiri perang  gerilya. Ia mampu bergeliat mempertaruhkan nyawa  menunjukkan nyalinya. Padahal sejatinya, ia adalah seorang bangsawan.


Tapi dirinya tidak pernah  enggan  keluar masuk hutan. Walaupun matanya nyaris buta dan sakitnya terus mendera. Tidak, perjuangan tidak mengenal kata berhenti baginya. Termasuk nasehat dari orang-orang terdekat agar ia beristirahat. Tentu saja, hal itu menimbulkan rasa trenyuh yang amat dalam. Bukankah begitu banyak penderitaan yang telah dialaminya? Tetapi nyatanya ia terus berusaha agar tetap kuat.



Perang khape, bek jigidong tanoh Aceh!” Semangatnya terus membara untuk melawan penjajah yang telah menghinakan tanah airnya.


Aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya, kalau saja sahabat seperjuangannya tidak melaporkan tempat persembunyiannya pada patroli Belanda.  Rasa kasihan, tak tega dan juga rasa sayang mengakibatkan Pang Lot berbuat demikian. Tapi mungkin itu yang terbaik yang digariskan Tuhan padanya. Ia kemudian ditangkap dan dibuang ke suatu daerah yang sangat jauh dari tempatnya.


Meunasah, tempat berinteraksi dengan  Sang Pencipta,manusia dan lingkungan.

Tetapi di pengasingan, pada rumahnya yang sederhana, hatinya tak pernah mati. Diam bukanlah karakternya. Ia pun kemudian mengajarkan agama Islam bagi masyarakat sekitarnya. Pun, dalam keterbatasan fisiknya ia tetap melakukan aktivitas hidupnya sendiri, walaupun mempunyai seorang pembantu. 

Masyarakat Sumedang begitu menghormatinya. Padahal mereka tidak tahu asal-usulnya. Begitupun para pemimpin Sumedang waktu itu. Mereka salut karena pengetahuan wanita ini tentang sejarah Sumedang sangat luas. 

Memang, tidak susah melihat orang seperti apa dia. Pada wajahnya menyiratkan keteguhan hati yang luar biasa. Orang "besar" seperti itu akan selalu mempunyai tempat dimanapun mereka berada. Termasuk bagi masyarakat Sumedang. Mereka pun memangilnya Eyang Prabu Aceh. Sebuah panggilan kehormatan tanpa tahu kalau ia adalah seorang pejuang yang hebat.   





Makam Cut Nyak Dien di Gunung Puyuh Sumedang.
Tiga tahun setelah itu, Srikandi Aceh yang bernama  Cut Nyak Dien itupun berpulang. Jasadnya tidak terlihat di bumi lagi. Namun perjuangan, tekad kerasnya, kepemimpinannya, ketegarannya sanggup menginspirasi kami. 


Terima kasih Eyang Prabu Aceh, sudah berjuang keras membela ibu pertiwi tempat kumenghabiskan hidup saat ini. Semoga semua jasa baikmu diterima Allah SWT. Amin. 


Dan kita wanita Indonesia, mari berjuang dengan kemampuan kita sendiri untuk membantu membangun Indonesia ke arah yang jauh lebih baik lagi.


***


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh : 


Posting Komentar