Minggu, 19 Mei 2013

Menangkal Pendapat Menyesatkan Tentang OGB di Masyarakat




“Huh, ogah aku memakai obat generik. Kualitasnya rendah. Harganya juga murah. Itu kan obat dari pemerintah untuk orang miskin. Lama sembuhnya kalau minum obat itu!” 


Wah, ternyata seperti itulah pandangan masyarakat tentang obat generik selama ini. Sebagai penulis, aku merasa berkewajiban turut meluruskan pendapat-pendapat keliru seperti itu. Walau bukan seorang ahli di bidang kesehatan, kalau masalah itu, aku sedikit tahu dari buku-buku. majalah, surat kabar atau   tulisan di internet yang pernah aku baca. Berikut sedikit penjelasannya. 


Sebelum lebih jauh kita berbicara tentang obat generik, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu tentang obat paten. Ini adalah jenis obat yang dihasilkan dari hasil riset. Hanya perusahaan yang mempunyai hak patenlah yang dapat memproduksi obat  tersebut. Di Indonesia,  hak paten ini berlaku selama 20 tahun. Setelah habis masa patennya, obat itu disebut obat generik. Kalau sudah menjadi obat generik, maka semua perusahaan farmasi dapat memproduksi obat tersebut, bahkan tanpa perlu membayar royalti. 


Ada dua jenis obat generik. Yang pertama adalah obat generik bermerek dagang. Umumnya disebut  obat bermerek. Obat ini  diberi merek dagang  oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya. Misalnya untuk zat aktif amoxicillin akan dinamai sesuai merek yang diberikan perusahaan farmasi.. Namanya bukan amoxicillin lagi tapi bisa ”gatoticilin” dan lain sebagainya. Pastinya tiap pabrik yang memproduksinya akan memberikan nama yang berbeda. 


Dan yang kedua adalah obat generik berlogo (OGB).  Masyarakat umum menyebutnya obat generik saja. Obat ini  mencantumkan  kandungan zat aktifnya. Misalnya akan tertulis “Amoxicillin”.  Ada tanda atau logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan “generik” di tengah lingkaran. Logo tersebut menunjukkan bahwa OGB telah lulus uji kualitas, khasiat dan keamanan. Sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat.


Jika dibandingkan dengan obat paten, obat generik berlogo (OGB) mempunyai beberapa keunggulan. OGB harganya murah. Hal itu bisa terjadi dengan berbagai alasan. Pertama, obat generik hanya berisi zat yang dikandungnya saja. Dijualnya pun dalam kemasan dengan jumlah besar. Sehingga tidak memerlukan biaya untuk membuat kemasan juga untuk biaya iklan. 


Mengenai mutunya, tidak ada perbedaan antara obat paten dan obat generik. Keduanya mengandung bahan baku yang sama. Yang membedakan hanya kemasannya. Obat paten sengaja dibuat dengan kemasan yang menarik dan berwarna. Sehingga tidak mengherankan kalau obat paten harganya menjadi lebih mahal dibanding obat generik,



OGB sendiri merupakan program pemerintah yang diluncurkan tahun 1989. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah akan obat. Tetapi saat ini tujuan pengadaan obat generik adalah untuk menyediakan atau memberikan alternatif obat bagi masyarakat dengan kualitas terjamin, harga terjangkau dan ketersediaan yang cukup.


Jangan khawatir dengan mutunya. Kualitas OGB sudah sesuai standar yang ditetapkan kok. Itu karena OGB diproduksi oleh industri farmasi BUMN. Sehingga dengan mudah pemerintah melakukan pengawasan. Pemerintah pun mengendalikan harganya agar masyarakat bisa dengan mudah mengaksesnya. 


Berbeda dengan obat generik bermerek. Obat bermerek ini diproduksi oleh perusahaan swasta. Tak heran kalau harganya bisa lebih mahal dibanding obat generik berlogo. Hal itu karena kebijakan perusahaan farmasi ikut menentukan harganya, Ada biaya promosi yang juga harus diperhitungkan. 


Dari bahasan di atas bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa, dalam mengkonsumsi obat kita tidak memakan mereknya melainkan menginginkan generiknya atau  khasiat yang terkandung di dalamnya. Jadi, menggunakan OGB tetap oke kok untuk pemulihan kesehatan kita. Karena harga yang murah, tidak mencerminkan kualitas yang rendah. Demikian, sepertinya kita tak perlu ragu lagi untuk menggunakan Obat Generik Berlogo (OGB). 


Semoga memberikan manfaat. Salam sehat untuk semua. 


***


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba karya tulis tentang OGB yang diselenggarakan oleh  




Minggu, 05 Mei 2013

Seri Ife dan Tsuraya 02 : Bermain Koki-kokian

Sumber gambar : Hi5

Cerah sekali udara di hari minggu itu. Tsuraya sudah berdiri di depan rumah. Ia menunggu sahabatnya, Ifeco. Mereka berdua berjanji akan bermain koki-kokian di dekat padang ilalang. 

Tsuraya mulai gelisah. Ifeco tidak muncul-muncul di hadapannya. Padahal ia sudah siap sejak dari tadi. Digerak-gerakkannya sepatunya untuk mengusir kegelisahannya. Sepatu merah menyala itu nampak berkilau. Sepatu baru itu  dipakai pertama kalinya. Merupakan hadiah dari pamannya yang baru datang dari negeri Hawai sana. Dan baju kuningnya yang indah itu juga hadiah ulang tahun dari pamannya. Paman Tsuraya cukup kaya. Ia bekerja di kapal pesiar. Sebulan sekali pergi mengunjungi keluarganya.

Ketika Tsuraya sedang menggerak-gerakkan bajunya, tanpa disangka Ife sudah ada di sampingnya.

"Hai, selamat pagi," sapa Ifeco ramah.

Tsuraya sedikit kaget. Ia tertawa kecil melihat dandanan Ifeco pagi itu.

"Kau...kau sudah seperti seorang koki sekarang. Dan itu...?" Tunjuknya sambil melihat handuk kecil berwarna putih di tangannya.

"Ini adalah lap yang akan digunakan nanti untuk melayani Tuan Putri."

Mereka pun tertawa.

Jumat, 03 Mei 2013

Seri Ife dan Tsuraya 01 : Ilalang Kuning

Sumber gambar : Hi5


Ife menatap ke atas rumah bertiang tinggi itu. Ia berharap sahabatnya, Tsuraya akan segera turun. Kemarin  mereka berjanji untuk bermain ke padang ilalang lagi. Tetapi akhirnya Ife begitu senang. Ia  melihat sahabatnya itu muncul di jendela. Senyumnya manis sekali. Tangannya melambai dengan riangnya. Ife segera memberi kode padanya untuk segera turun.

Tak! Tak! Tak! Satu per satu Tsuraya menuruni tangga. Ife menunggunya dengan mata berbinar. 

"Aku merindukan capung dengan warna merah dan hitam. Aku ingin menangkapnya dan menyimpannya di rumah," Tsuraya langsung bercerita.

Sabtu, 27 April 2013

Be-Bob Memang Mantap




Berita gembira bahwa aku diterima bekerja di salah sebuah bank swasta di Pekanbaru ternyata membuat hatiku ciut waktu itu. Bagaimana tidak. Aku harus beres-beres pakaian sendiri, cari tiket pesawat sendiri, pergi ke bandara sendiri dan membeli semua keperluan kerjaku sendiri. Hiks, rasanya ingin menangis saja. Tak ada seorang pun yang bisa membantuku.  Seluruh keluargaku  sudah lama pindah ke kota itu.



Untungnya ayahku menyuruh om membantuku. Maka urusan tiket pesawat dan orang yang mengantarku ke bandara terselesaikan sudah. Begitu pun baju-baju yang akan aku bawa sudah kubereskan semua. Tetapi ayahku hanya mengirim aku uang pas-pasan untuk membeli keperluan kerjaku berupa tas dan sepatu. Maka diantar omku aku pergi ke pusat perbelanjaan mencari barang-barang itu. Pertama om yang memilihkan tas kerjaku. Harganya bagiku cukup wow. Tapi om berbaik hati mentraktirku.


Jumat, 19 April 2013

Here is my Greenfields Milk



Hiks, ternyata usiaku sudah kepala empat! It means, that I am a  woman now. Actually, I begin to be old.So, aku harus mulai menjaga kesehatan dengan lebih baik lagi.  Cause, berbagai gangguan tubuh mulai dirasakan. Dari mulai sakit mag, kolesterol tinggi, rematik dan juga  darah tinggi. And then, asal kena ac atau angin bisa membuat tubuh cepat sekali menderita masuk angin.


Faktor U, orang mengatakannya demikian. Meanwhile, aku masih enggan meninggalkan sederet daftar makanan favorit. Sate kambing, paru goreng di rumah makan padang, sop atau soto bersantan dengan tetelan berselimut lemak. Ada kepuasan sangat besar ketika mengkonsumsinya. Bahkan tanpa pernah merasa bersalah sama sekali. Bagaimana mungkin aku harus mengucapkan bye-bye pada semua itu?


Nyadar Wie, nyadar. Selalu kata hatiku berbicara tiap darah tinggiku kambuh atau tingkat kolesterolku meninggi. Bandel, aku mengakui diriku seperti itu. Sudah tahu punya kolesterol tinggi masih juga mengkonsumsi paru tiap hari. Habis, suka sih. Tapi lihat, sekian banyak aktivitas hidupmu terganggu, kan? Kata hatiku kembali memaki.


Aah, bertindak dong untuk mencegahnya. Tak puasnya kata hatiku mengingatkan. Sudah! Teriakku pada diri sendiri. Aku mengatakan demikian karena sudah berubah seperti satria baja hitam yang membentuk rupa baru, eh kebiasaan baru!  Selain mengatur pola makan, sejumlah makanan favorit mulai dikurangi. Konsumsi buah-buahan yang biasanya jarang sekarang makin dirapatkan. Olah raga juga diusahakan lebih teratur. Untuk mencegah masuk angin selalu diusahakan menggunakan sweater walaupun siang hari. Suplemen vitamin juga sudah mulai dikonsumsi. 


Pulang senam, langsung minum susu Greenfields Hi-Calcium Skimmed Milk. Hm...sueger.

Benjang, Tradisi Yang Tidak Pernah Mati


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Siang itu matahari sedang garang memanggang. Dari kejauhan terdengar suara tetabuhan. “Woy, benjang euy! Benjaang!” Seru anak-anak antusias memberitahukan kawan-kawannya. Mereka berlarian menuju sumber suara. Tak berapa lama alun-alun tempat diadakan pertunjukkan itu penuh manusia yang ingin menonton permainan gratis itu. Ternyata bukan hanya anak-anak, para ibu dan bapak pun nampak senang melihatnya. 


Benjang  adalah  permainan tradisional  yang berasal dari Kabupaten Bandung. Tepatnya desa Ciwaru  Ujungberung. Namun sumber Benjang juga ditemukan di desa Cibolerang Cinunuk. Di kedua tempat itulah kesenian gulat ala Sunda ini dipopulerkan dan dilestarikan.


Mengenai sejarah Benjang sendiri, konon  sudah ada sejak tahun 1820. Dari masa itu sampai sekarang  tehniknya tidak mengalami banyak perubahan. Misalnya tetap menggunakan  alat musik yang terdiri dari terbang, gendang, pingprung, kempring, kempul, kecrek dan tarompet juga bedug yang menimbulkan suara menggema. Tak lupa seorang sinden yang biasanya menyanyikan lagu-lagu sunda. 

Halaman Rumahku, Inspirasiku

Barusan dapat sms dari adik di depan. "Teh, ada paket." 

Sempat bingung sejenak. Merasa tidak belanja online dan tidak dapat hadiah dari lomba. Untuk membuang kepenasaranan, segera aku ambil ke depan. 

"Paket dari siapa?" Tanyaku enggan. Adikku lalu melihat pengirimnya.

"Dari majalah Bobo," jawabnya singkat. Masih juga heran dan yakin seratus persen isinya naskahku yang ditolak. Walau aku sama sekali lupa pernah mengirim tulisan ke media itu.

Lalu aku sobek bagian atasnya dengan perasaan kecewa. Aku merasa betapa sulit tulisanku tembus di media. Pertama kali aku kirim naskah cernak itu buat Kompas Anak. Empat bulan kemudian dapat amplop yang sama berisi penolakan. Alasannya tema cerita yang kutulis pernah ditulis orang sebelumnya. Wah, padahal aku merasa itu ide asliku sendiri. Tapi memang tema putri-putri seperti itu ceritanya agak pasaran sih. Saat itu aku menerima penolakan dengan lapang dada.

Tak mau berputus asa, aku lalu mengirim ke majalah Mentari Surabaya dan Lampungpost. Dua-duanya dimuat. Bahagia rasanya, antara percaya dan tidak.

Hal itu membuat rasa percaya diriku mulai muncul. Kemudian aku mencoba  mengirim ke majalah anak yang lain, yang kurang terkenal. Hasilnya, ditolak. Catatannya cukup pahit : naskah Anda tidak menarik. Aku kemudian posting cerita itu di blog dan meminta pendapat penulis cerita anak senior. Beliau mengatakan naskahku bagus.