Rabu, 01 Agustus 2012

Episode Cinta : Bukan Hanya Satu Cinta



Aku berjalan bergandengan dengan calon suamiku, pria pujaanku yang berpostur tinggi besar. Baru saja dia datang ke Bandung dari tempat kerjanya di luar pulau Jawa. Untuk mendekatkan hubungan, aku mengajaknya ke tempat wisata alam.

Udara segar menyelimuti kami. Kami pun duduk di pinggir kolam menikmati pemandangan. Dia tersenyum, meraih tanganku dan memandangku.

“Siapakah orang yang paling kamu cintai di dunia ini?” Tanyanya serius. 

Bah, pertanyaan konyol macam apa pula itu. Sebagai orang Islam pasti dia tahu, manusia yang paling dicintai ya Nabi besar kita Muhammad SAW. Tapi aku tahu, maksudnya pasti bukan itu.

“Orang yang paling kucintai dan kukagumi di dunia ini adalah kakekku,” tegasku.

Dia nampak  tertegun sejenak. Pasti tidak menyangka jawabanku akan seperti itu. Mungkin dia berharap kalau pria yang paling kucintai di dunia ini adalah dirinya. Atau kemungkinan lain adalah anak laki-lakiku satu-satunya. Ternyata di luar dugaan, jawabanku mengejutkannya. Tapi sebagai manusia dewasa yang bijaksana, dengan cepat dia bisa mengendalikan dirinya. 

“Pastinya ada alasan yang kuat mengapa kamu mengatakan demikian,” tuturnya. Aku menangkap sedikit nada gelisah pada kata-katanya.

“Kakekku adalah manusia terbaik yang pernah kukenal dalam hidupku.” Itulah kata kunci yang aku ingin sekali calon suamiku memahaminya.

“Kakekku adalah ibuku. Kakekku adalah ayahku. Kakekku adalah guruku, penasehatku, pemimpinku, suri tauladanku. Kakekku adalah kakekku. Segalanya. Segala yang indah dan baik ada padanya.” 

Dia nampak makin penasaran. Kemudian menarik tanganku dan memandangku dengan serius.

“Ceritakan semuanya,” pintanya antusias. Matanya penuh binar rasa ingin tahu.

“Sejak bayi beberapa hari aku sudah diberikan oleh orangtuaku kepada kakekku. Aku dimandikan, diberi makan, dikasih uang jajan, disekolahkan, dipenuhi kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian oleh beliau,” mataku mulai berkaca-kaca.

Calon suamiku nampak memperhatikan.

“Selalu ada sekaleng susu besar untuk aku dan adik perempuanku. Selalu menemani ketika aku belajar. Selalu mengerti tentang minatku. Selalu menjagaku. Selalu….” Aku diam. Airmataku menitik. Calon suamiku segera menghapusnya dengan jarinya.

“Masa kanak-kanak merupakan masa paling bahagia dalam hidupku,” aku menceritakan riwayat masa keclku kembali. "Kami hidup di desa dengan aneka permainan tradisional. Bercengkrama di alam. Berburu capung, mengail ikan-ikan kecil di sawah, tutut bahkan mengeruk tanah mencari sisa panen ubi. Ubi kecil itu subhanallah enaknya, manis. Mungkin karena perjuangan menggalinya yang menjadikan rasanya menjadi istimewa.”

Calon suamiku tersenyum. Tapi tidak berkomentar apa-apa.

“Kalau aku terlalu asyik bermain, kakek menjemput untuk mengajakku pulang lalu mandi. Kalau punya makanan nasi pinco, biarpun sudah tidur, kakek akan membangunkan aku untuk menikmatinya, karena itu makanan favorit yang sering aku tunggu kehadirannya.”

“Kakek mengenalkan aku dengan buku. Di masa kecil buku-bukuku banyak sekali jumlahnya. Belum termasuk majalah juga. Aku sangat terharu saat SMA aku diberi hadiah sebuah kamus paling lengkap. Dan itu dibeli kakek spesial untukku dengan cara menabung sekian lama. Hiks.” Kali ini aku sesungukan. Tapi aku menolak ia membersihkan air mataku. Aku menghapusnya dengan tisu.

“Ketika harus berpisah, aku merasakan dunia seperti runtuh adanya. Tapi dari jauh kakek tetap memberikan cinta dan kasih sayangnya. Bahkan karena nasehatnya aku mempunyai kekuatan bertahan hidup yang luar biasa.” Kembali aku mengusap airmataku dengan tisu.

“Kakek selalu mengajak kami bepergian. Melihat sawah, gunung, sungai, bangunan, apapun itu. Makanya jangan heran kalau kulitku agak hitam. Sejak SD aku selalu bergabung dengan grup pecinta alam.” Calon suamiku tersenyum.

“Kakek, sunguh sulit kuceritakan. Dia istimewa, abadi di hatiku. Dia sangat pantas untuk dicintai. Karena dia selalu pandai mencintai dengan ikhlas sepenuh hati. Setiap hari mendoakan orang-orang yag dicintainya termasuk aku. Jika dalam diriku terdapat kebaikan, maka itu adalah hasil didikan kakek. Dan jika terdapat keburukan pada diriku, maka itu karena kebodohan diriku sendiri.” Aku mulai kuat menahan tangis dan bercerita dengan lancar.

“Beliau sudah tiada kini. Tapi semangatnya masih menyala di hatiku. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali mendoakannya. Selalu doaku mengatakan, Ya Allah jadikan aku anak yang saleh, agar doaku sampai kepadanya.”

Aku memandang mata calon suamiku.

“Aku tak berharap engkau sesempurna kakek. Aku tahu engkau pria yang baik dan penuh perhatian. Maka aku mencintaimu selain juga aku mencintai kakekku. Kini aku punya tiga cinta dalam hidupku. Semoga itu dalam koridor cintaku pada Rab-ku dan cintaku pada Nabiku.”

Aku menutup cerita. Calon suamiku mengatakan sesuatu padaku. Tapi maaf, tak akan kuceritakan di sini. Biarlah itu hanya jadi rahasia kami berdua. Pokoknya selepas bercerita, dadaku merasa plong. Senyumku mengembang ceria. Kamipun bergandengan kembali. Siap menyonsong masa depan yang akan menjelang.

***

Jujur kalau berburu hadiah aku mengincar parfum for men yang jika menang akan aku hadiahkan kepada putra laki-lakiku yang sebentar lagi menginjak bangku perguruan tinggi.
Oh ya, tulisan ini diikutsertakan dalam event ulangtahun yang ke-4 tahun blog detiknya Mbak Julie. http://julie.blogdetik.com/2012/07/05/4-tahun-di-blogdetik-selalu-ada-cinta/







Posting Komentar