Minggu, 22 Juli 2012

Perampok Nyawa

Hujan mengguyur desa itu semalaman. Sepulang jalan-jalan Miang dan Kiliang kesasar. Mereka masuk desa lenggang di pinggir hutan. Berdua mereka berteduh di bawah pohon beringin besar yang sudah tua. Urat-urat  akarnya menyembul dan mereka duduk berdekatan di sana.
“Aku lapar sekali, Sayang,” kata Miang kepada kekasihnya sambil menggelendot manja. Kiliang segera mengecup kepalanya tanda sayang.
“Sabar ya, di daerah seperti ini kan susah mencari makanan,” hibur  Kiliang. Ia segera mencandai kekasihnya itu agar melupakan rasa laparnya. Mereka bergulingan di tanah. Tubuh mereka basah. Tapi kemudian Miang diam.
“Perutku semakin lapar rasanya,” bisiknya sambil menatap pasangannya. Mata yang biasa berbinar bercahaya itupun menjadi sendu. 
“Tunggu di sini.” Kiliang pun segera berlalu. Hujan dan angin tak menggetarkan hatinya. Ia ingin menunjukkan rasa cintanya pada Miang, mahluk paling cantik di matanya.
Sementara itu di jalan Kampakan, Edwin dengan muka pucat pasi menyetir jeep gunungnya. Di sampingnya seorang anak wanita lucu, Miami namanya, nampak tegang.
“Papa, kasihan mama sendirian, masih berapa lama lagi kita sampai di rumah? Aku takut,” ucapnya mengkerut di jok depan.
Edwin segera mengucap rambutnya.
“Sabar ya, Nak!” Tangannya gemetaran. Hatinya dikerubungi waswas. Ia kemalaman pulang. Andai saja ia tadi tidak membawa si kecil ke proyek di hutan. Duh….
Hujan semakin besar mengguyur sisi hutan. Hal itu menyebabkan mobilnya amblas masuk lumpur. Lekat. Ia benar-benar dilanda ketakutan pada saat-saat seperti itu. Bagaimana tidak, ia takut dua perampok nyawa terkenal itu datang. Siapa lagi kalau bukan Miang dan Kiliang. Hatinya berteriak, berdoa mohon keselamatan.
Tetapi dalam puncak ketakutannya, ia merasakan sesuatu. Lewat lampu mobilnya ia melihat Kiliang datang! Wajahnya tersorot lampu, kelihatan begitu kejam. Edwin menjadi super tegang.
“Miami, berlindung di bawah jok belakang!” Teriaknya pada putrinya.
Anak itu pun panik. Ia segera melompat dan berlindung di bawah jok. Badannya gemetaran.
Kiliang kini sudah naik di atas mobilnya. Tepat di depannya. Melihat tubuhnya  yang besar dan kekar,  membuat tangan Edwin  kaku untuk sekedar tancap gas. Badannya menggigil.
Kiliang menyeringai hendak menabrak kaca depan. Tiba-tiba sesuatu terasa bergedebuk di samping mobilnya. Kilang spontan melompat. Dan apa yang didapati lewat pandangan mata Edwin sungguh melegakannya. Dadanya berdebar hebat. Kiliang bergumul dengan seekor rusa yang menabrak mobilnya entah karena apa. Tak lama ia menjinjing rusa muda itu dengan mulutnya.
Sejenak Edwin diam. Segera setelah Kiliang berlalu, ia pun tancap gas. Mobil melaju di jalanan  seperti setan yang hendak menembus kegelapan malam.
***
“Sayang, aku bawa oleh-oleh enak untukmu!” Teriak Kiliang pada kekasihnya. Miang yang sedang tertidur kelelahan itu pun bangun. Dengan gembiranya mereka makan bersama.
Sementara itu mobil Edwin sudah sampai di depan rumah. Seorang wanita segera membuka pintu rumahnya. Dengan napas terengah-engah Edwin menggendong putrinya. Lalu menarik istrinya untuk segera masuk rumah.
“Aku bertemu Kiliang,” kata-kata itu yang diucapkan pertama kali kepada istrinya.
“Apa?!” kata istrinya kaget.
“Tetapi jangan khawatir, seekor rusa menyelamatkan kami,” lanjutnya dengan napas masih terengah-engah.
Muka istrinya langsung pucat pasi. Bagaimana kabar keganasan dua harimau itu yang sering masuk ke desa untuk mencari mangsa telah tersebar kemana-mana. Penduduk menamakan mereka Kiliang dan Miang. Dalam bahasa daerah artinya si ganas dan si rakus. Mereka adalah sepasang harimau yang terusik keberadaannya karena pertambangan batubara, tempat kerja suaminya.
“Besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri. Aku tak peduli dengan uang dua belas juta itu lagi,” tandas Edwin.
Malam itu mereka pun beres-beres, bertekad pulang ke pulau Jawa.  Anak satu-satunya menjadi pertimbangan bagi mereka akan keselamatannya. Anak itu lahir dengan perjuangan yang luar biasa. Istrinya sudah empat puluh tiga tahun usianya, saat yang rawan untuk melahirkan. Dan saat kelahirannya itu juga benar-benar meregang nyawa, karena harus dilakukan lewat operasi dalam keadaan tensi darah yang tinggi.
“Miami, papa tak ingin kamu jadi korban Kiliang atau Miang, Sayang,” bisik hatinya. Anak itu kini terlelap di pesawat. Mereka menuju tempat pulang, Jakarta,  yang tidak mungkin disinggahi Kiliang atau Miang. Hiks. Bye bye hutan Sumatera.

***

Sumber gambar : padangekspres.co.id



"Sahabat adalah posisi penting di dalam hati. Ia tidak akan pergi sampai nyawa berpisah dengan raga. Sahabat adalah manusia istimewa. Hubungan yang tak pernah bisa terputus oleh apapun kecuali keegoisan."


Posting Komentar