Senin, 30 Juli 2012

Tidak Mudah Menjadi Ibu Peri yang Baik Hati




Entah siapa yang memulainya, di tempat kerja aku dijuluki ibu peri yang baik hati. Akulah satu-satunya  guru (asisten bimbingan) yang jarang kena complain dari orangtua. Aku tidak pernah dikatakan sebagai guru yang galak. Satu saja alasannya mengapa : aku senantiasa  mencoba menempatkan diri  dalam dunia anak. 

Aku memperlakukan tiap anak berbeda. Anak yang mandiri dan terampil aku hanya sedikit memperhatikannya. Tetapi anak-anak yang manja, yang kemampuannya kurang, anak-anak yang masih kecil, mereka membutuhkan penanganan yang berbeda.

Ada peraturan di kelasku bahwa tidak diperkenankan mengobrol dengan anak-anak. Tapi aku melakukannya. Alasannya simpel saja. Aku ingin anak-anak mengerjakan pekerjaannya dengan mood yang baik alias semangat dan senang. Makanya aku hapal sekali kalau ada anak TK yang hobi sekali main game VGA. Entahlah jenis permainan apa itu. Atau dengan suka hati kubiarkan anak bercerita tentang ulang tahunnya.

Kemarin seorang anak protes, karena Dede bercerita tentang ulang tahunnya. Aku mendengarkan ceritanya dengan antusias.

“Kenapa mengerjakannya sambil ngobrol?” Kata anak di samping kananku, Rafif namanya.

“Oh iya ya, kalau gitu Dede mengerjakan dulu pekerjaannya ya. Nanti kalau sudah selesai kita mengobrol lagi.”

“Aku juga ingin ngobrol tentang VGA-ku,” kata Rafif. Aku tersenyum. Ternyata anak punya rasa cemburu juga ya.

“Oke, tetapi kalau pekerjaannya sudah selesai ya.” Lalu keduanya kulihat semangat sekali mengerjakannya. Dan sesudahnya Rafif bercerita tentang VGA-nya.

Lain anak kecil, lain juga anak yang mempunyai masalah. Menangani anak yang bermasalah diperlukan penangannan yang berbeda. Untuk anak yang susah sekali berkonsentrasi diperlukan kadar sabar yang sangat tinggi. Satu dua soal dibimbing menjadi bisa. Soal ketiga lupa lagi caranya. Suara kita bisa serak dan waktu untuk satu anak bisa tersita lebih banyak.

Yang paling susah menanganinya adalah anak yang hiperaktif. Keadaannya membuat kita selain cape secara fisik juga secara mental. Sedikit lengah saja dia sudah pergi dari tempat duduknya. Dalam hitungan detik sudah mencubitlah, meludahlah, mengacak-acak tempat sampahlah. Kadang seperti bermain kucing-kucingan di dalam kelas. Gerakannya gesit. Diperlukan strategi yang jitu menangani anak seperti ini. Yang kucatat, jangan memperlihatkan ekspresi benci baik dalam perkataan, perbuatan ataupun raut muka kita. Tehnik pendekatan personal, menyemangati dan memuji adalah cara yang biasa aku lakukan untuk menaklukkannya.

Perkara marah, mengapa aku tidak pernah marah di kelas walaupun anak-anakku kebanyakan anak yang bermasalah? Mungkin pada dasarnya aku bukan tipe orang yang melampiaskan emosinya dengan cara marah. Biasanya kalau tekanan emosi tinggi, aku menangis. Tapi sampai saat ini aku belum pernah menangis karena ulah anak-anakku yang “istimewa” itu.

Aku juga menyukai dunia anak. Masa anak-anakku sangat bahagia. Aku aktif dalam kegiatan menyanyi, menari, pramuka, pencak silat, jaipongan dan mempunyai kawan-kawan yang banyak. Aku ingin anak-anakku juga bahagia walaupun di pundak mereka ada beban untuk menyelesaikan soal-soal matematika yang materinya terkadang jauh di atas tingkatan kelasnya.




Galak, aku guru yang belum pernah mendapat complain seperti itu. Aku juga sangat memaklumi kematangan mental dan faktor psikologis serta pola pikir amat berpengaruh di dalamnya. Tidak mudah memang menangani anak-anak.

Pernah aku mengajar les pada tempat lain. Aku mempunyai dua murid keturunan yang lincah ceria. Mereka adik kakak. Yang kakaknya bertubuh tambun, tapi matematikanya kurang sekali. Aku tidak menempatkan diriku sebagai guru bagi mereka. Aku memposisikan diri juga sebagai sahabat mereka. Aduh, aku kok lupa ya nama kakaknya. Kita panggil Alex saja ya.  

Suatu hari Alex wajahnya berseri-seri sekali. Nampaknya pagi itu semangatnya sedang menyala tinggi.

“Bu guru, nilai matematikaku hebat kemarin!”Sapanya setelah mencium tangan.

“Tentang apa?” Tanyaku padanya.

“Pecahan dong,” jawabnya bangga. Itu adalah materi yang sedang kuajarkan padanya.

“Emang dapat nilai berapa?” Tanyaku lagi. “Sepuluh ya?”

“Enggak tujuh,” jawabnya santai. Aku diam sejenak. Bagaimana bisa dia begitu bangga dengan nilai tujuh. Sedang anak-anakku yang lain mereka sering curhat kalau nilainya sepuluh.

“Emang biasanya suka dapat nilai berapa?” Tanyaku akhirnya.

“Nol,” jawabnya percaya diri. Hah? Berarti ia mengalami kemajuan belajar yang signifikan. Dan keberhasilan itu sering tidak dapat dinilai lewat angka. Aku lebih ingin anak-anakku paham dan bukan lebih fokus pada nilainya.

Sejak itu ia semangat sekali. Bahkan mamanya sering berpesan padaku untuk lebih detail mengajar pada materi tertentu. Padahal aku punya program sendiri untuk anak-anakku. Aku mempelajari kelemahan dan kelebihannya di mana.
 
Tetapi pagi lain, aku lihat matanya seperti habis menangis. Dia duduk di kelas tanpa bersuara. Ketika kutanya dia diam saja. Aku mulai kebingungan bagaimana memperlakukan anak seperti ini. Kelas empat SD lagi. 

“Alex lagi sakit, ya?” Dia diam.

“Alex dapat nilai buruk lagi di sekolah ya?” Diam juga.

“Dimarah mama, ya?” Malah terisak. Lalu memperlihatkan tangannya dengan mulut bungkam. Ada goresan-goresan merah memanjang di sana. Hatiku mulai deg-degan. 

“Ini kenapa, kok merah-merah?” Tanyaku hati-hati.

“Dipukul mama pakai lidi,” menjawab tersendat. Menangis lagi. Wah, aku benar-benar tak menyangka bahwa anak kelas 4 SD juga bisa menangis.

“Mama pasti punya alasan melakukannya, Alex nakal ya?”

“Aku nggak mau mengerjakan PR dari ibu,” katanya.

Halah, separah itu. Dia lalu memperlihatkan goresan yang lebih merah di bagian pahanya.

“Setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. PR dibuat kan sebagai latihan agar lebih melancarkan. Tidak lupa-lupa lagi. Sayang kan kalau prestasi disekolahmu sudah baik jadi anjlok lagi.”

Diam.

“Aku sedang malas,” kilahnya. “Aku lupa lagi caranya.”

“Ya sudah sini, PRnya mana, ibu guru memberi satu contoh saja ya. Sudah itu kerjakan sendiri.”

Ia lalu mengeluarkan PRnya. Aku mengajarinya sampai ia paham. 

Aku juga pernah diperbantukan di TK. Dan aku melihat sendiri betapa guru TK yang sudah lama berkecimpung dalam dunianya itu tidak sabar kalau menghadapi anak nakal dan susah menangkap pelajaran. Emosinya naik. 

Saat aku kembali mengajar matematika kembali, mereka berteriak-teiak di luar.

“Aku ingin belajar sama bu Dewi! Aku ingin belajar sama bu Dewi!” Hah? anak-anak nakal itu? Bagaimana mereka bisa ngefans padaku? 

Aku mendekati mereka karena tingkahnya itu menganggu konsentrasi anak-anak di kelasku. Aku jelaskan bahwa aku bukan mengajar TK. Tapi ya Tuhan, kadang kalau sedang belajar, mereka masuk hanya sekedar untuk memberi salam padaku, baik saat datang maupun pulang. 

Saat aku harus hengkang, aku berbohong, pamit pada mereka untuk sementara. Tapi sesudah jauh airmataku bergelimang. Ada perasaan sedih meninggalkan mereka. Bagaimana kalau mereka berharap kedatanganku lagi? 

Di tempat kursus sekarang, delapan tahun sudah aku mengabdi. Meninggalkan jejak pengalaman bagaimana sebenarnya harus bertindak terhadap anak-anak. Dan dunia mereka yang polos, lurus dan jujur sering memberikan kesan betapa aku merasa tertantang untuk membantu mereka menjadi pintar dan bahagia. Andai anak-anak itu tahu, betapa berat beban mereka kelak untuk memajukan Indonesia ke tempat terhormat selayaknya bangsa yang bermartabat. Semangat dan maju terus ya wahai anak-anak Indonesia.


***





Posting Komentar