Sabtu, 09 Februari 2013

Inspirasi tak Bertepi





Inspirasi tak bertepi, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sebuah perhelatan musik di Cimahi 8 Februari kemarin. Dikemas cukup sederhana namun sarat hiburan bahkan unsur edukatifnya. Bagi aku pribadi inilah tontonan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Pertama, karena aku sebagai orang yang suka bernyanyi (walau awam dalam  bermusik), diberi banyak sekali pencerahan oleh seorang ahli, tepatnya penggagas acara ini , kang Wawan Darmawan. 
 
Kang Wawan Darmawan.

Memang suatu  keberuntungan bisa mengenal komunitas ini. Tadinya kupikir acara sekelas ini hanya ada di hotel berbintang saja. Nyatanya aku bisa menikmatinya di sebuah kafe, gratis pula. Walau bagi aku sangat disayangkan karena letaknya cukup jauh dari rumah. Ditambah jadwal pertemuannya bentrok dengan jadwal kerjaku. 


Dan yang membuat aku terharu sekali adalah saat seseorang maju ke depan.  Ia mampu menyanyikan sebuah lagu dalam beberapa versi musik yang dibalut warna blues. Tak mengherankan kenapa demikian, karena segmen utamanya adalah mengenalkan jenis musik blues sebagai dasar untuk mempelajari segala jenis musik. Hal itu sungguh menarik karena menambah pengetahuanku tentang bermusik dan berolah vokal.



Yang menjadi catatan penting adalah bahwa berimprovisasi dengan suara dan jenis musik apa saja, hal itu sah-sah saja dilakukan. Justru, kreativitas seperti itu malah membawa sensasi tersendiri. Unsur pembaharuannya itu membawa roh baru yang membuat “kesegaran”  bagi penikmat musik. Contohnya lagu berjudul Imagine yang didendangkan dalam beberapa versi musik.  Penyanyi pria yang membawakan lagu itu mampu berimprovisasi sehingga kemampuannya bisa tereksplor walau secara spontanitas. Menurut aku, hal itu keren sekali. Aku jadi penasaran ingin mencobanya.


Selama ini kalau aku menyanyi biasanya mengikuti pakem yang ada. Musikpun dibuat sama persis dengan aslinya walau diiringi oleh electone. Aku pun pernah berhenti menyanyi di tengah-tengah karena pemain organnya tidak berkenan aku berimprovisasi dengan nadanya. Dan itu membuat aku dongkol setengah mati. Kenapa aku mesti sama dengan penyanyi aslinya? Dia kan dia dan aku adalah aku. Aku dan dia tentu saja berbeda. Berbeda dengan di komunitas ini, improvisasi malah dianjurkan seluas-luasnya.



Mengenai komunitas ini, memang lahir dari seorang idealis. Dari tipikal orang seperti itu memang bisa lahir gagasan baru yang kreatif. Aku malah berpikir konsep seperti itu sebenarnya bisa jadi ajang komersil.  Pasti seru kalau teve-teve swasta menayangkan acara musik seperti ini. Sebuah konsep baru yang memadukan hiburan dan edukatif musiknya juga.   Bagi anak muda yang hobi bermusik bisa menjadi panduan karena berisi wawasan pengetahuan tentang semua jenis musik yang ada. Bagi orang dewasa,ini semacam hiburan juga. Kelak acara ini bisa menjadi acara keluarga, dimana seluruh anggota keluarga dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan kakek dan nenek bisa bernostalgia. 


Kemarin juga yang hadir terdiri dari beberapa kalangan. Selain penyanyi, orang yang suka nyanyi, tokoh musik bahkan anak sekolah yang punya hobi memainkan alat musik.  Asyiknya, karena selain mendapat wawasan tentang aneka jenis musik juga mendapat bimbingan langsung  praktek bermusik. Maklum pengulasnya mempunyai wawasan pengetahuan bermusik dan memainkan alat musik. 


Berbeda sekali dengan komunitas menyanyi yang selama ini kuikuti. Komunitas hanya sekedar “happy”. Hanya bernyanyi dan menari yang pada akhirnya menimbulkan kejenuhan tersendiri. Tapi di sini aku menemukan sesuatu yang berbeda, unsur edukatifnya banyak sekali. Bisa diskusi, usul, bertanya dan berbagi pengetahuan.  Keren sekali,bukan?



Tetapi sesampai di rumah, aku jadi merenung sendirian. Ketika begitu banyak komunitas dalam berbagai bidang, termasuk bermusik, aku malah kepikiran anak-anak. Siapa ya yang peduli dengan musik dan lagu anak-anak. Kasihan sekali nasib mereka. Mereka tak punya panutan lagu dan penyanyi yang sesuai dengan dunianya. Tak ada satu fihak pun yang memikirkan mereka. Walaupun di televisi ada beberapa even menyanyi khusus anak, tapi gregetnya kurang terasa. 


Memprihatinkan memang. Keponakan aku saja yang baru kelas 3 SD, di hapenya berisi lagu dewasa semua. Tak ada masa-masa indah seperti ketika aku kecil dulu. Menyanyikan lagu Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet dan lain sebagainya. Belum lagu-lagu yang sarat pesan moral dan pengetahuan seperti lagu-lagu karangan Ibu Sud, Pak Kasur dan lain sebagainya. Begitu pun ketika anak-anak menyanyi di karaoke,lagunya pun cukup membuat aku mengelus dada. Anak-anak kecil itu menyanyi lagu seperti Teman tapi Mesra, Belah Duren, Cinta Satu Malam dan lagu-lagu Korea yang sama sekali tidak mereka tahu artinya.



Bagaimana caranya ya menggugah para musisi untuk juga memperhatikan selera seni anak-anak. Khususnya untuk Pandiga, mungkin sekali waktu diadakan pengumpulan anak-anak berbakat agar mereka bisa berimprovisasi juga dengan berani. Dan konsepnya mungkin sederhana saja disesuaikan dengan kemampuan anak. Dari even seperti itu diharapkan dapat mengumpulkan anak-anak berbakat musik yang menyanyikan lagu-lagu anak. Sepertinya dengan cara itu akan lahir bibit-bibit baru penyanyi dan musikus berkualitas. Harapannya jika kualitasnya muncul ke permukaan akan menjadi tayangan komersil. Anak-anak  Indonesia ke depannya akan punya panutan penyanyi yang juga anak-anak. Bukan mengidolakan penyanyi dewasa. Ya, itu hanya sekedar harapan.


Oh ya, untuk yang ingin menikmati perhelatan bernama Pandiga Blues Corner ini, silakan datang  setiap jumat sore di Pandiga Educreation jalan Sirnarasa Cihanjuang Cimahi Utara. Walau sebenarnya ini diperuntukan untuk mengasah dan mengekspresikan kemampuan dan bakat  para pemusik kota Cimahi dan sekitarnya, tetapi tidak dilarang dari kota lain mengunjunginya. Dan kemarin baru even yang ketiga kalinya. Untuk even berikutnya, silakan nantikan kejutan-kejutan lain yang pasti mempesona.



 ***


Silakan lihat juga link yang berkaitan dengan tulisan ini di : 

http://www.bedanews.com/pandiga-blues-corner-jadi-ajang-sharing-pemusik#.URhZh9S6usc.facebook
Posting Komentar