Jumat, 19 April 2013

Benjang, Tradisi Yang Tidak Pernah Mati


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Siang itu matahari sedang garang memanggang. Dari kejauhan terdengar suara tetabuhan. “Woy, benjang euy! Benjaang!” Seru anak-anak antusias memberitahukan kawan-kawannya. Mereka berlarian menuju sumber suara. Tak berapa lama alun-alun tempat diadakan pertunjukkan itu penuh manusia yang ingin menonton permainan gratis itu. Ternyata bukan hanya anak-anak, para ibu dan bapak pun nampak senang melihatnya. 


Benjang  adalah  permainan tradisional  yang berasal dari Kabupaten Bandung. Tepatnya desa Ciwaru  Ujungberung. Namun sumber Benjang juga ditemukan di desa Cibolerang Cinunuk. Di kedua tempat itulah kesenian gulat ala Sunda ini dipopulerkan dan dilestarikan.


Mengenai sejarah Benjang sendiri, konon  sudah ada sejak tahun 1820. Dari masa itu sampai sekarang  tehniknya tidak mengalami banyak perubahan. Misalnya tetap menggunakan  alat musik yang terdiri dari terbang, gendang, pingprung, kempring, kempul, kecrek dan tarompet juga bedug yang menimbulkan suara menggema. Tak lupa seorang sinden yang biasanya menyanyikan lagu-lagu sunda. 



Benjang dan daerah tempat tinggalku rasanya begitu menyatu. Di alun-alun kota sering ada pertunjukkannya.  Mungkin sebagai upaya untuk tetap melestarikan kesenian tersebut. Walau begitu, masyarakat tidak pernah bosan untuk menontonnya.


Sumber gambar : http://kesenianujungberung.blogspot.com/2008/12/benjang.html
Pun, ketika anak-anak disunat. Mereka menginginkan ada kesenian itu mewarnai momen mereka yang sekali seumur hidupnya. Dan para orangtua pun kerap mengabulkan permintaan anak sebagai hiburan. Juga sebagai bentuk  terima kasih yang tersembunyi karena anak sudah mau  bersakit-sakit melaksanakan sunah nabi. Termasuk keponakanku. Ia tetap riang setelah melaksanakan sunatnya. Ia memang senang sekali melihat pertunjukkan itu. Tak peduli orangtuanya mengeluarkan dana  ratusan ribu rupiah agar pertunjukkan itu bisa dinikmati anaknya dan masyarakat setempat.    
   

Adapun pertunjukkan itu bisa diselenggarakan jika ada personel sebanyak 20 sampai 25 orang. Mereka pun mempunyai tugasnya sendiri-sendiri. Biasanya satu orang bertindak sebagai pemimpin, satu orang lagi menjadi wasit, satu orang sebagai sinden (wanita) dan sisanya penabuh dan pemain. Adapun para penabuh, mereka memakai baju kampret, celana pangsi dan ikat kepala dari batik. Sesajen sebagai syarat pun harus sudah disiapkan. Terdiri dari kelapa muda, telur ayam, beras, minyak kelapa, cerutu, air kopi, rujak khusus, arang dan kemenyan. Semua itu ditaruh di pakuruyan.   


Permainan dimulai ketika pemimpin yang mengenakan pakaian silat yang berwarna hitam itu memimpin doa dan mantra. Tak lama kemudian tetabuhan pun berkumandang. Irama musik yang menghentak-hentak seolah memberi semangat pada tukang benjang untuk menunjukkan atraksinya yang menawan. Para tukang benjang pun kemudian ngibing (menari) memakai sarung memasuki arena. Selesai menari mereka membuka sarungnya. Jadi, mereka hanya mengenakan celana pendek saja.  

Lalu tukang benjang sebagai pemain itu mulai menunjukkan atraksinya. Mereka mengeluarkan jurus-jurus dengan menghentakkan kepala, mematikan langkah lawan dengan gerakan tertentu dan lain sebagainya.  Menurutku sih gerakannya ada sedikit kemiripan dengan Sumo dari Jepang. Dan pemain dinyatakan kalah kalau ia sudah dalam posisi terlentang dan ditindih oleh lawannya. Wasit pun kemudian menghentikan pertandingan. Kemudian menentukan orang yang berhasil mengunci lawan dengan cara menindih seperti tadi dinyatakan sebagai pemenang. 


Hihihi…menarik juga ya. Tapi bagi aku pribadi, kurang responsif menontonnya. Aku kan   kurang suka dengan kekerasan fisik. Tapi tradisi tetap tradisi. Ia perlu dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa sendiri. Bagaimana teman-teman, setuju dengan pendapatku, bukan?


***
Posting Komentar