Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.
Siang itu matahari sedang garang memanggang. Dari kejauhan
terdengar suara tetabuhan. “Woy, benjang euy! Benjaang!” Seru anak-anak
antusias memberitahukan kawan-kawannya. Mereka berlarian menuju sumber suara.
Tak berapa lama alun-alun tempat diadakan pertunjukkan itu penuh manusia yang ingin menonton
permainan gratis itu. Ternyata bukan hanya anak-anak, para ibu dan bapak pun nampak
senang melihatnya.
Benjang adalah permainan tradisional yang berasal dari Kabupaten Bandung. Tepatnya
desa Ciwaru Ujungberung. Namun sumber
Benjang juga ditemukan di desa Cibolerang Cinunuk. Di kedua tempat itulah
kesenian gulat ala Sunda ini dipopulerkan dan dilestarikan.
Mengenai sejarah Benjang sendiri, konon sudah ada sejak tahun 1820. Dari masa itu
sampai sekarang tehniknya tidak
mengalami banyak perubahan. Misalnya tetap menggunakan alat musik yang terdiri dari terbang, gendang,
pingprung, kempring, kempul, kecrek dan tarompet juga bedug yang menimbulkan
suara menggema. Tak lupa seorang sinden yang biasanya menyanyikan lagu-lagu
sunda.
Benjang dan daerah tempat tinggalku rasanya begitu menyatu.
Di alun-alun kota sering ada pertunjukkannya. Mungkin
sebagai upaya untuk tetap melestarikan kesenian tersebut. Walau begitu,
masyarakat tidak pernah bosan untuk menontonnya.
![]() | |
Sumber gambar : http://kesenianujungberung.blogspot.com/2008/12/benjang.html |
Adapun pertunjukkan itu bisa diselenggarakan jika ada personel
sebanyak 20 sampai 25 orang. Mereka pun mempunyai tugasnya sendiri-sendiri.
Biasanya satu orang bertindak sebagai pemimpin, satu orang lagi menjadi wasit,
satu orang sebagai sinden (wanita) dan sisanya penabuh dan pemain. Adapun para
penabuh, mereka memakai baju kampret, celana pangsi dan ikat kepala dari batik.
Sesajen sebagai syarat pun harus sudah disiapkan. Terdiri dari kelapa muda,
telur ayam, beras, minyak kelapa, cerutu, air kopi, rujak khusus, arang dan
kemenyan. Semua itu ditaruh di pakuruyan.
Permainan dimulai ketika pemimpin yang mengenakan pakaian
silat yang berwarna hitam itu memimpin doa dan mantra. Tak lama kemudian
tetabuhan pun berkumandang. Irama musik yang menghentak-hentak seolah memberi
semangat pada tukang benjang untuk menunjukkan atraksinya yang menawan. Para tukang benjang pun kemudian ngibing (menari)
memakai sarung memasuki arena. Selesai
menari mereka membuka sarungnya. Jadi, mereka hanya mengenakan celana pendek
saja.
Lalu tukang benjang sebagai pemain itu mulai menunjukkan
atraksinya. Mereka mengeluarkan jurus-jurus dengan menghentakkan kepala,
mematikan langkah lawan dengan gerakan tertentu dan lain sebagainya. Menurutku sih gerakannya ada sedikit kemiripan
dengan Sumo dari Jepang. Dan pemain dinyatakan kalah kalau ia sudah dalam
posisi terlentang dan ditindih oleh lawannya. Wasit pun kemudian menghentikan
pertandingan. Kemudian menentukan orang yang berhasil mengunci lawan dengan
cara menindih seperti tadi dinyatakan sebagai pemenang.
Hihihi…menarik juga ya. Tapi bagi aku pribadi, kurang responsif
menontonnya. Aku kan kurang suka dengan kekerasan fisik. Tapi tradisi tetap tradisi. Ia
perlu dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa sendiri. Bagaimana
teman-teman, setuju dengan pendapatku, bukan?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar