Jumat, 19 April 2013

Halaman Rumahku, Inspirasiku

Barusan dapat sms dari adik di depan. "Teh, ada paket." 

Sempat bingung sejenak. Merasa tidak belanja online dan tidak dapat hadiah dari lomba. Untuk membuang kepenasaranan, segera aku ambil ke depan. 

"Paket dari siapa?" Tanyaku enggan. Adikku lalu melihat pengirimnya.

"Dari majalah Bobo," jawabnya singkat. Masih juga heran dan yakin seratus persen isinya naskahku yang ditolak. Walau aku sama sekali lupa pernah mengirim tulisan ke media itu.

Lalu aku sobek bagian atasnya dengan perasaan kecewa. Aku merasa betapa sulit tulisanku tembus di media. Pertama kali aku kirim naskah cernak itu buat Kompas Anak. Empat bulan kemudian dapat amplop yang sama berisi penolakan. Alasannya tema cerita yang kutulis pernah ditulis orang sebelumnya. Wah, padahal aku merasa itu ide asliku sendiri. Tapi memang tema putri-putri seperti itu ceritanya agak pasaran sih. Saat itu aku menerima penolakan dengan lapang dada.

Tak mau berputus asa, aku lalu mengirim ke majalah Mentari Surabaya dan Lampungpost. Dua-duanya dimuat. Bahagia rasanya, antara percaya dan tidak.

Hal itu membuat rasa percaya diriku mulai muncul. Kemudian aku mencoba  mengirim ke majalah anak yang lain, yang kurang terkenal. Hasilnya, ditolak. Catatannya cukup pahit : naskah Anda tidak menarik. Aku kemudian posting cerita itu di blog dan meminta pendapat penulis cerita anak senior. Beliau mengatakan naskahku bagus. 


Artinya aku salah memilih media. Harusnya kan aku mempelajari karakter media tersebut dulu. Tapi ya sudahlah, jadikan saja pengalaman berharga. Tapi kemudian aku banting stir menulis fiksi remaja dan dewasa. Tapi malas kirim ke media. Alasannya waktu itu ada lomba, dan aku kirim 3 cerpenku, ternyata medianya kabur gak tahu rimbanya.

Menulis cerita anak kembali? Jujur, menulis cerita anak itu bagi aku paling sulit dibanding aku harus menulis artikel. Idenya saja susah ditemukan.  Pokoknya, membuat cerita anak itu susah. Titik. Tak peduli berapa buku pun kita membaca teorinya.

Tetapi ketika itu, seperti kebiasaanku, aku sering melihat kebun depan rumahku. Aku turun dan mengamati ada satu ulat hijau bertengger di tanaman bunga. Besoknya bertambah dua, tiga dan hampir menghabiskan daun di sana. Uniknya, ada ulat jenis lain juga di sana yang berwarna coklat belang. Tiba-tiba ide datang. Aku menuliskan hal itu menjadi sebuah cerita. Tapi bingung, aku tidak tahu tanaman bunga apa yang sangat disukai ulat-ulat itu. Daripada bingung-bingung, aku namakan saja itu tanaman widuri. Widuri itu nama penaku, Tsuraya Widuri. Oh ya, ada beberapa redaksi  yang kurang berkenan jika menggunakan nama pena. Maka aku gunakan nama asli. Tapi jadinya tetap kan,  nama penaku ada dalam ceritaku. Hihihi... 


Setelah naskah itu selesai edit, aku kirim ke Bobo via pos. Dalam agendaku tercatat terkirim 20 Februari 2012. Artinya naskahku baru dimuat setahun kemudian. Berarti juga naskah yang masuk ke Bobo demikian banyak sampai antrinya lama sekali. 

Tetapi tidak apa. Aku sungguh bahagia. Apalagi disitu ada tulisan Mas Iwok Abqary dan Mbak Rae Sita Patappa, mereka senior dalam dunia karya tulis untuk anak. Mengenai tulisanku, jujur, dalam hati kecil aku masih belum puas dengan kualitas karya tulisku sendiri.

Kembali ke ide cerita anak. Satu cernakku juga terinspirasi oleh kejadian di halaman rumahku. Silakan tengok link ini : Si Pohon Cabe yang Sombong. Artinya halaman rumahku penuh inspirasi asal kita cermat menggalinya. 

Begitulah pengalamanku dalam mencari jati diriku. Mau jadi penulis apakah aku? Penulis buku, penulis review, penulis cerita anak, penulis parenting atau gado-gado saja. Aku percaya kepada  temanku yang mengatakan kalau aku cocoknya menulis artikel. Tapi sampai saat ini aku belum berkecenderungan ke arah mana. Semuanya aku coba dan tuliskan kecuali karangan ilmiah tentunya. Hehe...

Untuk yang mau membaca tulisanku, silakan beli BOBO edisi terbaru yang terbit 18 April 2013 tahun ke XLI. Salam semangat untuk semua. Yuk, menulis agar jadikan dirimu eksis. 


***






Posting Komentar