Sabtu, 14 Juli 2012

SI POHON CABE YANG SOMBONG



Di sebuah kebun tumbuh sebuah pohon cabe. Karena berada pada tanah yang subur, maka iapun cepat menjadi tinggi. Tunas–tunas barunya tumbuh banyak. Daun – daunnya hijau memikat. Dan cabangnya menjalar ke semua arah. Beberapa hari kemudian bermunculanlah bunga-bunga kecilnya. 

Si pohon cabe merasa bangga. Apalagi ia melihat beberapa manusia melihat dan merawatnya. Mereka memendam harapan akan kesuburannya.

Seperti biasa tiap pagi ia berdandan Ia bercermin dengan menggoyang – goyangkan daunnya di beberapa titik embun. Matahari sudah memberikan cahayanya. Dan itu berarti ia harus siap menanti kunjungan para serangga ke tempatnya. Ia kembali menggoyang – goyangkan daunnya dibantu tiupan angin. Alhasil tingkahnya itu mengundang kupu – kupu untuk mendatanginya.

Sang pohon cabe bangga sekali. Tamunya kali ini adalah tamu istimewa. Ia adalah kupu–kupu berjenis langka. Warnanya kelabu. Bentuk tubuhnya lebih menyerupai burung daripada kupu – kupu. Sayapnya juga mirip burung, begitupun kepalanya. Hal itu mengundang manusia memperhatikannya dengan seksama.

“Lihat pohon cabe itu membawa hoki, kupu – kupu langka itu saja bertengger lama di atasnya. Mari kita memfoto kupu – kupu itu untuk kita kirim ke koran agar kita mendapatkan uang”. 

Lalu klik, beberapa orang memfoto kupu – kupu yang sedang bertapa di dahannya. Si pohon cabe ikut bangga. Ia berpose dengan lentik – lentik daunnya yang indah.

“Hm,” katanya mengejek. Ia melihat ada sebuah pohon tumbuh tak jauh darinya. Tunasnya baru tumbuh satu. 

“Kasihan deh kamu. Tak ada seorang pun manusia memperhatikanmu. Bahkan tak ada satupun serangga yang bersedia mengunjungimu,” ledeknya.

“Aku tak membutuhkan mereka. Tanpa serangga pun aku baik-baik saja,” jawab pohon singkong itu apa adanya. 

Lain kali si pohon cabe menyombong lagi.

“Beberapa manusia sudah melihatku. Betapa berharganya aku karena sebentar lagi bungaku menjadi cabe-cabe yang banyak. Dan setelah berwarna merah aku akan dipetik kemudian dijual dengan harga yang mahal,” sombongnya bertubi-tubi.

“Tahukah kamu? Bagi kalangan manusia aku paling dibutuhkan saat ini. Menjelang lebaran banyak manusia yang membuat rendang, gulai, acar atau sambal goreng. Semua menggunakan aku. Di pasar hargaku melambung tinggi. Hebat kan? Dan kamu? Hahaha...tak ada satupun yang memakan singkong di hari lebaran,” kemudian ia tertawa ngakak.

Si pohon singkong diam saja menerima penghinaan itu. Ia pun tak merasa iri ketika saat panen tiba ia melihat buah-buah berwarna merah, meriah dipetik dengan bangganya oleh si empunya rumah. Dan dengan wajah yang berseri – seri dijualnya ke warung tetangga. 

“Kamu lihat merahku berguna buat manusia. Dan kamu? Hari gini masih bertunas dua? Kasihan deh lu!” Tak hentinya si pohon cabe menghinanya.

Si pohon singkong diam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Lain kali si pohon cabe menyombong lagi.

“Lihat, bahkan buah-buahku yang masih hijau saja bisa berguna! Dan kamu, dari dulu baru tumbuh tunas tiga. Payah!”

Si pohon singkong ngedumel dalam hati. Ia telah tumbuh tunas, dari satu menjadi dua, dari dua menjadi tiga. Tapi tetap saja si pohon cabe menghinanya. Ia menjadi sedih.

Pagi itu ketika semua pohon masih tertidur ada suara ribut-ribut manusia. Rupanya ada seorang ibu yang mencari pucuk-pucuk pohon cabe untuk pengobatan anaknya yang sakit diare.

“Hehehe....bahkan pucuk daunku saja dibutuhkan orang. Kamu? Tak ada satupun manusia melirik padamu.”
Kali ini si pohon singkong menjawab. “Biar saja.”

* * * * * * *

Musim hujan tiba. Tiap pagi, siang kadang malam, hujan turun dengan lebatnya. Hal itu menyebabkan ulat- ulat kedinginan. Mereka menjadi lapar terus menerus. Persedian makanan di tempat mereka menjadi cepat habis. Akhirnya mereka berkeliaran mencari makanan ke tempat yang jauh. Dan mereka menemukan si pohon cabe yang daunnya kelihatan hijau menggiurkan. Air liur mereka mengalir tak sabar ingin menyantapnya.

“Psssstttttt...!!!” Pemimpin ulat memanggil anak buahnya untuk menyerbu. Dan tanpa dapat ditahan, setengah berlari mereka memanjat. Dengan rakus mulai menyantap daunnya satu per satu. Si pohon cabe keriting berteriak-teriak mengusir kawanan ulat itu. Dia menggoyang-goyangkan batangnya dengan kuat. Tapi ulat-ulat itu malah semakin memeluk erat. Mereka tak peduli apapun. Bagi mereka rasa daun cabe adalah makanan terlezat di dunia. Hingga mereka tak mau pergi dari sana.

Si pohon cabe meminta bantuan sang angin temannya. Tapi sang angin pun tak mampu mengusirnya karena ulat-ulat itu kini telah menjadi ulat yang kuat. Mereka sangat rakus makannya. 

Si pohon cabe meranggas sedih. Daunnya tinggal sedikit lagi. Batangnya sebagian sudah kering. Tak kuat menahan beban ulat-ulat yang semakin gemuk saja. Ia sakit parah. Ia tak dapat menyombong lagi kini.
Diliriknya si pohon singkong. Ia semakin tinggi dan jauh lebih tinggi darinya. Daunnya tumbuh lebat. Batangnya menantang matahari.

“Aku sakit kini. Mungkin sebentar lagi mati. Maafkan aku ya karena selama ini aku sering menghinamu. Ternyata engkau masih diberi izin hidup oleh Tuhan karena engkau tidak sombong. Engkau juga baik sehingga tidak punya musuh. Sedang aku, aku hampir mati gara-gara si rakus ini,” makinya marah pada ulat -ulat itu. 

Pohon singkong tersenyum.

“Aku sudah memaafkanmu, kawan. Kau harus sabar ya. Ulat-ulat itu sebentar lagi menjadi kupu-kupu. Setelah itu mereka tak akan mengganggumu lagi,” berita si pohon singkong.

Tapi sayang sebelum si ulat berubah jadi kupu-kupu, si pohon cabe keburu mati. Batangnya kering kerontang. Manusia pun mencabut dan membuangnya.

***




Cerita ini dimuat di Lampungpost dalam kolom Dunia Anak, Minggu, 8 Mei 2011
Sumber gambar : Google Image.






Posting Komentar