Jumat, 14 Desember 2012

Tentang si Koki Cinta



Tet terereteet….terererereteet…tet..te..tet..teet……Percaya tidak percaya kalau mendengar suara itu di hape, aku bisa kalang kabut. Kalau sedang di kamar mandi, kuambil handuk dan segera kugenggam hapeku erat-erat. Lalu senyum-senyum sendiri, tak peduli busa masih menempel di punggung. Kalau lagi memasak, terpaksa mematikan api dulu. Sudah bisa ditebak, akhirnya aku sibuk smsan. Lima belas menit kemudian baru menyelesaikannya. Kalau sedang serius di tempat kerja, maka pura-pura kebelet. Kemudian segera masuk kamar mandi dan sibuk smsan di dalam, sampai terdengar bunyi ketukan. Kalau sedang menyapu halaman, sapu dilemparkan dan lari masuk rumah mencari sumber suara. Pernah juga aku lagi membaca novel di kamar, dan hapeku ada di ruang tamu, maka aku berlari. Kakiku akhirnya kesandung sudut kursi. Aku  meringis tapi  sambil beringsut untuk meraih hapeku. Suara yang satu itu memang begitu menantang.
Pasti timbul pertanyaan, kok bela-belain seperti itu memangnya dapat sms dari siapa? Apakah si pengirim pesan begitu penting adanya? Hehe, pasti sudah tahulah jawabannya. Dia pastilah seorang pria. Tampan? Ya iyalah. Mengesankan? Pastinya. Dulu ketika jumpa pertama, dia memamerkan giginya yang putih bersih. Senyumnya disorot matahari senja sehingga kilaunya menembus kegalauan hatiku. Aku seolah melihat pangeran yang datang hendak menjemput calon putrinya. Dia juga membawa hadiah kacang. Ooh, ternyata bukan sebuah buket bunga yang kudambakan.
Pria itu berhubungan dekat dengan yang namanya “cinta”.  Ia adalah manusia satu-satunya yang mampu mengaduk-ngaduk hatiku. Aku lebih senang mendefinisikan dia seperti koki cinta. Itu karena dia sanggup membuat adonan menjadi masakan perasaan dengan berbagai cita rasa.
Misalnya dia membuat aku gelisah saat kita berjanji pertama kali di selter mobil travel. Tidak tahu kesalahanpengertiannya dimana. Dia malah turun di pintu timur. Dan aku menunggu di pintu barat. Lalu demi keadilan kami bertemu di tengah-tengahnya.
Gelisahku berkepanjangan karena di tempat yang dijanjikan dia tak ditemukan. Lucunya di sana aku keliling-keliling berdua seorang pria ganteng yang membawa rangselnya dan mencari ceweknya. Mulanya aku mengira kalau itu si koki cinta. Dan dia mengira kalau aku adalah wanita yang dicarinya. Kita pandang-pandangan, saling menelusuri, tapi tak berani menyapa atau bertanya.
Nah, saat itu hapeku berbunyi. Aku memunggunginya. Saat itu aku berbicara dengan si koki cinta. Ketika aku  berbalik, ketahuan ternyata dia sedang tidak berbicara dengan aku. Pria di dekatku ternyata bukan si koki cinta. Jadi si koki cinta dimana?
“Aku di depan Hoka-hoka Bento, Sayang!”  Beritanya riang. Pandanganku berkeliling. Segera aku mulai jalan. Meninggalkan pria yang sedang bengong itu sendirian.
Bye cowok, aku  let’s go nih. Ternyata salah, kamu bukan si koki cintaku kok,”   batinku dalam hati.
Pandanganku berkeliling mencari restoran Jepang yang disebutkan itu. Tidak ada. Jadi dimana dia?
“Cinta, kamu dimana? Di sini tidak ada restoran itu. Kamu saja yang mencariku ya? Aku malas jalan nih, bingung soalnya. Kalau dalam lima menit tidak ketemu, maaf ya, aku mau pulang saja,” jawabku.
Terbayang dia pasti marah. Wajahnya memerah. Cewek yang dihadapinya gila atau apa. Masa dari Bali sengaja jauh-jauh naik pesawat untuk bertemu sebentar  denganku. Lalu menambah menumpang travel ke Bandung. Dan sesudah sampai, akunya mau pulang? Kalau ketemu pun dia pasti dendam, kenapa nih orang menyebalkan sekali. Tapi aku tidak peduli. Bagi aku laki-laki itu wajib cerdas. Masa menemukan seorang aku yang konon dikaguminya saja tidak mampu? Laki-laki macam apa pula itu? Sedang kan dunia ini saja begitu luasnya. Masa mencari wanita yang jelas-jelas manis dan manja seperti aku sulit ditemukan? Sengaja tidak kusebutkan  warna baju, sepatu atau tasku. Pokoknya dia harus menemukan aku, dengan cara apapun. Termasuk masuk mal dan memberitahukan lewat informasi yang mengumumkan bahwa ada seorang gadis yang hilang. Aku, tentunya. Hehe…
Lalu ketika aku berdiri depan mal yang kebetulan sepi, aku melihat ada yang senyum-senyum sendiri.  Tiba-tiba ia muncul, entah dari mana. Dia begitu bercahaya. Aku katakan demikian karena dia mudah sekali dikenali. Kulitnya yang putih dan dandanannya yang rapi serta berada di tempat parkir lapang membuat mata tak susah tertuju padanya.
Aku tersenyum. Kali ini yakin pasti itu si koki cinta. Kalaupun salah, tak apalah. Paling aku mendapat sedikit malu.
Si cowok memandangku, berjalan ke arahku. Sementara senyum renyah dengan mudah kuobral padanya. Bergegas dia mendapati aku. Kupercepat langkah menemui dia. Akhirnya bertemu.
“Sayang, sudah lama menunggu?” Sapanya sambil menyalamiku. Segera kutarik tangannya untuk kulekatkan di keningku. Begitu lho cara salamku untuk orang yang kuhormati.
Dia kelihatan dewasa sekali. Gayanya berwibawa, namun mukanya terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Maka ketika kami berjalan menuju rumah makan, aku  merasa seperti seorang ibu yang berjalan dengan anak abegenya. Untungnya dia mengenakan kemeja formil sehingga aku merasa  sedang berjalan dengan rekan kerja.
“Cinta, kamu sudah makan belum?”  Tanyaku setelah duduk di salah satu cafe pilihan. Tempatnya nyaman. Selain itu juga bersih. Daftar menunya terpampang besar plus harganya. Aku berharap mereka bisa melayani kami dengan cepat. Bukan apa-apa, aku malu kalau ketahuan perutku bernyanyi karena menahan lapar seharian.
Dia memesan kopi coklat panas. Tidak makan. Dia bilang belum lapar. Aku sendiri begitu berselera melihat hijau segarnya sayuran. Gado-gado, pada makanan itulah aku menjatuhkan pilihan.
Dia memandang aku yang sedang lahap menyantap makanan.
“Mh, enak dan segar ya, Sayang?” Katanya berkomentar sambil memperlihatkan muka serius, memperhatikan aku makan.
Tersenyum. Wah sepertinya aku tak membutuhkan minuman teh manis ini lagi. Dia sudah sangat manis dengan senyumnya itu.
“Tapi aku kenyang sekali.” Lalu aku mengangsurkan sisa makanan itu ke depan. Kusudahi dengan menelungkupkan kedua sendok dan garpu yang sudah lama berteman. Tanpa kusangka dia menariknya dan menghabiskan jatah makanku itu. Bahkan sampai habis.
Bibirku berjungkit heran.
“Sayang, kamu tidak jijik?” Tanyaku.
Dia masih asyik menyantap sisa timun dan kacang panjang. Sengaja tidak kuhabiskan karena  keberadaannya di gado-gado itu tidak kusukai.
Sesudah habis barulah dia menjawab.
“Sayang,  jangan biarkan makanan terbuang. Cari uang susah,” jawabnya.
Hah? Ooo..rupanya si koki cinta seorang yang pelit! Aku mengernyit.
Lalu dia membayar ke kasir. Dan menarikku ke toko kue untuk mampir.
Hallaaaaa ternyata dia tidak pelit. Nampaknya hanya tipe orang yang suka irit.
Aku memilih beberapa kue yang kusuka. Dan menanyakan padanya mau kue apa.
“Terserah Yayang saja,” katanya.
Lalu kami menyetop taksi untuk membawa dia ke rumahku.
Yang terjadi kemudian dia mengunci rumahku dari dalam.
Aku baru sadar kalau malam telah menjelang. Dia melemparkan rangselnya ke kursi. Lalu menikmati saling pandang-pandangan. Kemudian …..Aku terkejut bukan alang kepalang. Dia menarik tirai tuleku dan mengikat tanganku ke belakang. Belum sempat kuberucap satu katapun dalam keheranan. Dia lalu mengambil taplak meja kecil dan menyumbat mulutku dengan itu. Ternyata aku diperlakukan seperti botol olehnya. Lalu dia mendorongku ke kursi panjang.
Tiba-tiba….tok…tok..tok…pintu rumahku digedor. Pasti itu pak Rt yang suka kemalaman minta sumbangan bulanan. Aku berontak. Si koki cinta panik. Dia nampak menarik rambutnya.
“Kat!” Suara itu keras sekali masuk telingaku. Aku terduduk. Si koki cinta membuka semua ikatan di tangan dan sumbatan di mulutku. Dia lalu mengecup keningku dengan lembut.
“Akting kalian berdua bagus. Sempurna. Good!” Begitu kata sang sutradara.
Ya itu memang akting kami di film Koki Cinta. Itu merupakan film roman comedy terakhir yang harus kami selesaikan  sebelum pernikahan kami  bulan depan.
Selesai shooting, kuhabiskan malam menikmati purnama. Betapa manisnya cinta lokasi yang akan mempertemukan kami menjadi kesatuan suci. Saatnya akan tiba dimana aku akan hidup bersama dengan si koki cinta sebenarnya. Yeah….Jangan lupa doakan kami ya.


****

Posting Komentar