Minggu, 16 Desember 2012

Sudahkah Anda Menjadi Ayah yang Baik?


“Aku kangen Ayah,” suara anak kecil itu lembut manja.
“Ayah juga,” sahut ayahnya sambil mengusap rambutnya. Kulihat anak kecil itu merangkul leher ayahnya. Kemudian ayahnya memeluknya hangat.  Tak lama kemudian mereka berbagi cerita sambil sesekali bercengkrama.
“Bolehkah aku mengajak adik kembar itu bermain?” Tanyanya polos.
“Iya, mereka pasti sangat senang, “ jawab ayahnya serius.
“Boleh nggak aku menggendongnya juga?” Tanyanya lagi. Ayahnya mengangguk sambil tersenyum.
Begitulah  terus dialog itu berlangsung. Aku dapat menyimpulkan bahwa kedua anak itu “dipinjam” dari ibunya  untuk mengunjungi adik kembarnya.  Artinya anak-anak itu adalah korban perceraian  orangtuanya. Tetapi tetap, ayahnya mampu  menjalin hubungan harmonis dengan anak-anaknya.
Setelah lama berbagi cerita, aku lihat anak kecil itu kelelahan. Matanya mulai melemah. Ia memandang sebentar padaku. Tak lama dia sudah tertidur di tangan ayahnya.
Kisah “romatisme” ayah dan anak di bis luar kota itu menggugah aku untuk menulis tentang kriteria ayah yangbaik.  Akupun berniat mempublikasikannya di blog dan mulai membuka referensi.
Secara umum definisi ayah yang baik adalah ayah yang bisa memposisikan dirinya sebagai kepala keluarga. Ia bertindak sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dengan cara memberi nafkah, melindungi keluarganya dan tidak segan membantu tugas rumah tangga.
Ayah yang baik juga mampu menjalin hubungan yang lebih luas dengan anaknya. Ia mampu menyisihkan waktu untuk menjalin kebersamaan dengan anak. Tidak mesti melakukan hal yang muluk-muluk. Menemani anak menjelang tidur misalnya atau mengantar anak ke tempat kursus itu sudah cukup. Hal-hal sepele seperti itu mampu membuat keakraban.
Phyllis Bronstein, seorang professor klinik psikologi di Amerika Serikat memberikan pendapatnya tentang tugas seorang ayah. Menurutnya, seorang ayah sebaiknya menjalankan tugas lebih banyak  disbanding  ibu dalam hal mengajarkan anak kecakapan fisik, petualangan dan bagaimana mengemukakan pendapat.  Peran baik ayah yang demikian itu akan mampu membuat anak mempunyai kemampuan bersosialisasi.
Apalagi kalau ayah pun bias mengungkapkan perhatian dan kasih sayangnya. Misalnya mengelus kepala, memuji atau merangkul anak. Hal itu sangatlah berarti bagi anak. Hubungan emosional kedua belah pihak akan semakin dalam. Rasa bangga, dukungan moral dan material akan menjadi faktor pendukung yang bisa mendorong kesuksesan anak.
Jangan lupa untuk senantiasa menjadi pendengar yang baik saat anak curhat. Juga ketahuilah bagaimana cara menegur anak jika ia berbuat salah. Dengan demikian perkembangan kepribadian anak menjadi positif. Anak akan mempunyai  saat-saat berharga yang kelak akan dikenang  sebagai hal yang mengesankan dalam hidupnya.
Dan sebagai parameter kalau Anda sudah menjadi ayah yang baik adalah ketika anak sudah dewasa. Ia akan mengenang saat-saat manis dan berbahagia bersama Anda. Misal setelah beribadah bersama. Setelah itu anak memberi salam pada orangtuanya. Lalu orangtua mendoakan dan mencium kening anaknya satu per satu. Hm, ideal sekali nampaknya.
Dari uraian di atas, rasanya tidak susah kan untuk menjadi ayah yang baik?



***

Silakan mengikuti juga kuis tentang ibu yang baik : 


1 komentar:

Ria Rochma mengatakan...

kadang peran ayah dalam perenting itu terlewatkan karena adanya tanggung jawab dalam bekerja. makasih infonya bunda :)