Senin, 24 Desember 2012

Sisi Lain : Kisah Perjalanan Wisata Industri


Baru saja dapat kabar dari kawanku seorang pengusaha  : “Kita baru dapat musibah. Seorang pegawai remuk keempat jarinya. Juga tiga jari tangan yang satu lagi.”
Aku menganga. “Bagaimana itu bisa terjadi?”
“Kejatuhan balok besi. Tapi ia tak rasakan nyeri dan berjalan di atas balok itu untuk menyelamatkan diri.”
Diam. Ngeri.
“Dimanakah lokasi kejadian itu?” Antusiasku.
“Di tempat proyekku. Tapi dua hari ini pegawai diliburkan karena kejadian itu,” sendunya. Kenapa bisa terjadi ya. Padahal perusahaan Jepang, mereka menerapkan standar yang tinggi untuk keselamatan kerja. Pegawai wajib menggunakan alat-alat yang berfungsi meminimisir kecelakaan. Tetapi musibah tetap saja datang.”
Kami lalu sepakat melihat lokasi proyek itu. Menuju lokasi proyek di daerah Karawang sana, aku dibuat takjub. Sebuah kawasan terbentang luas dipenuhi rangka-rangka besi. Jalan di tengahnya diapit taman kecil dengan pohon-pophon yang tertata indah. Menyulap kawasan gersang menjadi daerah industri. Tetapi unik, mereka bisa menatanya dengan sangat rapi.
Sambil menelusuri  jalan, kami terus berbincang. Nun jauh di sana masih ada bukit-bukit yang baru sebagian digali. Lebih jauh lagi nampak banyak pohon , entah pohon apa dan berapa jauh lokasinya dari sana. Sangat jauh kurasa. Jika terus berjalan maka akan kehilangan jalan alias menghadapi jalan buntu.
Ada beberapa pabrik yang sudah jadi. Satu kawasan pabrik bisa terdiri dari sekitar tujuh bangunan yang besar-besar. Di atasnya diberi nomor urut satu, dua, tiga dan seterusnya. Ketakjubanku semakin menjadi, manakala melihat pabrik pembuatan mobil dengan lokasi bangunan yang sangat luas. Gedungnya juga sangat besar. Konon ribuan mobil dibuat di sana.

Yakin, tempat itu akan menjadi kawasan industri yang sangat besar. Tetapi hatiku tiba-tiba merasa kecil saat melihat sebuah bis karyawan keluar. Diantara kawasan yang sepi itu, aku masih melihat kehidupan. Aku melihat sebuah aktivitas. Ya, sebuah bis yang mencari kehidupan wajar. Bukan hanya berjejer pilar-pilar.
Sementara ada seorang buruh duduk di trotoar. Ia dikerubungi beberapa temannya. Entah kenapa atau sedang apa.
Semakin ke dalam semakin sunyi dan mencekam. Kami memutuskan kembali dan mengagumi rangka-rangka itu lagi.
“Sedih sekali,” tiba-tiba saja temanku berkata. “orang pribumi hanya kebagian menjadi kuli-kuli saja,” temanku mendesah.
Ya, memang. Yang ada di pikiranku saat itu juga adalah betapa loyalitas dan kerja keras mereka hanya dibayar dengan upah yang rendah. Padahal mereka berdedikasi pada sebuah brand besar yang sungguh mendunia.
“Kenapa orang Indonesia tidak mampu. Kenapa orang Indonesia tidak ada yang pintar. Aneh, bukankah yang jadi juara olimpiade matematika dan sebagainya itu banyak orang Indonesia?” Keluhku mengambang, hampa rasa.
Tiba-tiba  temanku menghentikan mobilnya. Ia memandangku.
“Bukan, bukan seperti itu. Di Indonesia juga banyak yang mampu kok. Hanya terlalu banyak “tikus” menggerogoti,” jelasnya.
Aku nyengir kuda. Kupikir, tak usahlah berdebat masalah itu. Hal itu bukan lagi rahasia.  Semua orang sudah tahu. Bahkan banyak temanku orang asing yang sudah tahu sejak lama. Ketika ditanya mereka hanya tersenyum masam.
“Aku rasa para pengusaha di sini pun banyak yang sudah tahu tentang hal itu. “ Asli lho, itu kata pengusaha dari UK. Bukan perkataanku lho ya. Artinya Indonesia ini populer sekali dengan brand  korupsinya.
Meninggalkan kawasan industri Karawang aku tepekur. Beban di kepalaku tak bisa lebur. Bagaimana kita bisa menjadi negara yang makmur  kalau masih seperti ini?




***

Posting Komentar