Selasa, 25 Desember 2012

Stop Eksploitasi Binatang




Siang itu panas matahari menyengat garang. Di perempatan jalan, di dekat lampu lalu lintas, seorang lelaki  nampak semangat menabuh genderang. Kulit mukanya menghitam. Nampaknya setiap hari ia terpanggang sinar matahari. Peluh pun membanjiri mukanya. Tapi ia sudah tak peduli lagi. 

Di dekatnya, seekor monyet kecil nampak asyik beraksi. Dengan pakaiannya yang rapi, ia berlari ke sana ke mari. Kadang bermain dengan payung atau sepeda kecilnya.  Kadang menari dengan  semua tingkahnya  yang lucu itu. 

Lelaki yang malang, ia tak sadar berapa banyak gas karbon monoksida  ia isap tanpa sengaja. Berapa banyak juga sinar ultra violet membakar kulitnya. Ia tak mengerti, yang penting baginya hanya sesuap nasi.

Dan monyet kecil itu, ia tidak tahu artinya lelah. Ia hanya budak bagi majikannya. Tugasnya hanya membantu tuannya mengumpulkan keping-keping  rupiah penyambung kehidupannya. Itu saja.

Sampai kapan  binatang itu akan dimanfaatkan ? Bukankah ia akan lebih berbahagia jika berkumpul dengan teman-temannya dalam habitatnya? Mengapa manusia tega merenggutnya dari kehidupan aslinya? Bayangkan, demi kepentingan manusia, monyet-monyet itu melawan kodratnya.  Apakah  juga manusia juga memperhatikan makan dan minumnya? Apapun alasannya, berbelaskasihlah pada binatang. Stop eksploitasi binatang untuk tujuan komersil.

Apakah begitu susahnya mencari pekerjaan yang layak di negara tercinta kita ini? Sampai-sampai orang harus mengerahkan segala daya upaya dan daya pikir agar mendapatkan uang. Celakanya, cara yang ditempuh juga malah merusak alam. Misalnya memburu binatang untuk dijual. Dan hal itu sudah bukan rahasia lagi.

Bahkan dalam skala kecil, burung-burung pun diburu. Mereka ditangkap dari alam bebas. Kemudian dijual untuk dipelihara anak-anak. Biasanya tak sampai seminggu mahluk itu mendapatkan ajalnya.  Hal itu dikarenakan orangtua tidak mengajarkan anaknya bagaimana memelihara binatang. Harusnya orangtua terlibat langsung merawatnya. Tak seharusnya burung-burung itu hanya jadi alat permainan  anak saja.

Dan ternyata sekarang, eksploitasi terhadap binatang telah dilakukan dengan berbagai cara. Sering manusia mengubah binatang-binatang itu sehingga tidak sesuai kodratnya. Contohnya di pasar-pasar tradisional banyak dijual anak ayam yang bulunya dicat warna merah, kuning, coklat dan lain sebagainya. Begitu pun si imut-imut kumang. Badannya digambari sesuka hati.  Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menarik perhatian anak-anak. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika binatang yang diburu itu termasuk hewan yang mulai langka.



Memang binatang yang dijual sekarang lebih variatif lagi. Kalau dulu laku sekali penjualan ikan dalam botol juga hamster. sekarang sejenis bayi kura-kura  pun dijual dengan harga berkisar antara Rp, 25.000,- sampai Rp.30.000,- rupiah. Hm, ternyata binatang menjadi ladang basah untuk mencari uang karena ternyata anak-anak sangat menyukainya.  Dan orangtua yang berkantung tebal tanpa pertimbangan membelikannya. Alasannya agar anaknya bisa mengetahui tentang binatang dan bisa mencintainya. Tetapi kenyataannya, binatang-binatang itu tersiksa hidupnya dan berakhir pada kematiannya dalam waktu singkat.


Memperkenalkan anak pada binatang tidak selalu dengan cara seperti itu. Orangtua bisa memberikan anak banyak buku tentang binatang. Banyak tersedia lho di toko buku baik fiksi maupun non fiksi. Untuk mengenal binatang secara langsung, orangtua juga bisa mengajak anak mengunjungi kebun binatang atau Taman Safari Indonesia, atau tempat penangkaran yang biasanya  dijadikan tempat wisata. Di daerah Cimahi Jawa Barat misalnya, ada tempat bernama Taman Kupu-kupu. 

Jadi,  jika ada segala hal yang mengeksploitasi binatang untuk tujuan komersil, jelas tolak saja dengan  mengatakan “no, thanks”.


***
Posting Komentar