Rabu, 26 Desember 2012

Anak Obesitas, Salah Siapa

wajah bulat, pipi tembem, wuih...pokoknya lucu dan menggemaskan deh! Orang dewasa pun pasti ingin mencumitnya. Itulah kesan yang dibawa oleh anak yang gemuk. Dan biasanya orangtuanya merasa bangga. Mereka tidak waspada bahwa anak yang gemuk mempunyai kecenderungan kuat untuk tetap gemuk sampai ia dewasa. Hal itu karena anak gemuk mempunyai sel lemak yang banyak dalam tubuhnya. Dan jumlahnya itu tidak akan pernah bisa berkurang.

Lucunya, dalam masyarakat banyak terjadi salah persepsi. Mereka mengira kalau anak yang gemuk itu pastilah anak yang sehat. Padahal gemuk tidak identik dengan sehat. Justru sebaliknya, anak gemuk mempunyai resiko kematian lebih besar dibanding anak yang mempunyai berat badan normal.

Bahkan menurut para pakar kesehatan anak, setiap kilogram kelebihan lemak dalam tubuh dapat  memperpendek hidup 60-80 hari. Jadi jika kelebihan lemak 25 kg saja, berarti bisa memperpendek umur 5 tahun.

Itu hanya kalkulasi para ahli. Dalam kehidupan nyata aku pernah melihat sebuah realita. Tentang seorang ibu yang demikian memanjakan anaknya. Mungkin karena dia menjadi anak laki-laki satu-satunya, maka dipenuhilah semua keinginannya tentang makanan yang enak-enak. Bahkan nafsu makannya menjadi nyaris tanpa kendali.



Tetapi ketika remaja hal itu malah menjadi bumerang. Anak yang harusnya aktif dan produktif malah jadi beban. Ia kesulitan melakukan aktivitas harian. Sekedar untuk dapat berdiri dari duduknya, ia perlu bantuan.

Kemudian timbul pertanyaan , siapa yang salah dalam hal ini? Jelas orangtua terutama ibunya. Ia tidak memahami bagaimana menjaga kesehatan anaknya dengan baik. Ujung-ujungnya berbagai penyakit mendekatis ampai akhirnya berujung pada kematian. Tragis sekali, bukan?

Padahal aku mengenal anak itu sebagai anak yang ramah, supel, baik dan berkemauan keras untuk berprestasi. Namun sayang, keterbatasan fisiknya berupa obesitas itu menghalanginya untuk menggapai cita-citanya.

Mengenai batasan obesitas itu sendiri adalah jika berat badan anak 20% atau lebih di atas berat badan normal atau berat badan ideal. Kalau sudah dalam kondisi demikian, sebaiknya orangtua berhati-hati agar dapat mengantisipasinya dari awal.

Selain mengalami gangguan kesehatan, anak obesitas pun kerap mengalami tekanan psikologis. Terutama bagi anak wanita yang baru gede. Hal itu terjadi karena pola pikir masyarakat yang menilai bahwa wanita muda yang menarik dan cantik itu adalah hanya milik mereka yang langsing, bukan si gemuk. Akibatnya anak bisa menjadi malu dan minder. Bisa juga jadi objek ejekan teman-temannya karenanya. Kemungkinan besar anak akan menarik diri dari lingkungan pergaulannya. Yang lebih gawat kalau ia sampai depresi.

Tentu kita semua menginginkan hal yang terbaik bagi anak-anak kita. Seperti pepatah : lebih baik mencegah daripada mengobati. Waspada sejak dini akan menghindarkan kita dari penyesalan yang tiada arti. So, mari perhatikan pola makan anak kita dengan lebih baik lagi.



***


Posting Komentar