Minggu, 30 Desember 2012

Fragmen tentang Senja

Senja melukis dirinya dengan semburat ceria, kuning keperakan. Aura merahnya seakan menandakan salam pamitan. Tebal dalam gumpalan. Awan bergulung dengan warna pekat padu padan. Semuanya itu  membias pada permukaan air bibir pantai yang mulai tenang. Para ombak yang sepertinya ingin beristirahat setelah garang menerjang di kepanasan siang.

Sementara matahari semakin menyembunyikan dirinya,  sedikit demi sedikit. Bulatnya semakin hilang, masuk dalam bayangan bumi. Lama-lama tenggelam. Tuntas sudah ia menunaikan tugasnya. Giliran bulan dan bintang-bintang menggantikan. Tapi nampaknya mereka masih malu-malu untuk datang.

Anak-anak yang berlari-lari sudah berhenti. Mereka menghentikan cengkramanya. Mata mereka tertuju pada matahari yang siap pergi. Pun orang dewasa, semua menyaksikan pemandangan itu dengan seksama. Pasangan berduaan saling berpegang tangan. Menjadi saksi saat-saat matahari akan terbenam. Seolah penggalan peristiwa itu tidak boleh terlewat sedikit pun oleh pandangan. Ya, matahari adalah sumber inspirasi, romantisme abadi, nuansa keindahan dan bahan perenungan untuk menghadirkan kebesaran Tuhan.

Dan aku memandang semua itu dalam kesendirian. Dalam keharuan. Hatiku menyatu dengan alam. Duduk di pasir putih , berkotoran. Merasakan ujung-ujung ombak menyentuh kakiku. Mendengar teriak burung yang bersiap pulang ke sarang, membiarkan ikan untuk tidur tenang. Besok pagi adalah masa tantangan kembali. Burung-burung itu akan memburunya lagi. 

Saatnya nelayan bersiap melaut juga. Kapal mereka sudah bertengger di belahan pantai lainnya. Tidak, tidak di sini. Karena  senja di pantai ini  memang telah menjadi kekasihku sejak dulu. Pantai ini khusus untuk mereka penikmat senja. Pemerhati matahari terbit dan tenggelam. Pantai ini kekasihku. Kekasih yang selalu menemani setiap senjaku. Bersama dengannya memadu rasa.

Kadang kumenitikkan airmata. Betapa ingin senja ini kubagi bersama seorang wanita istimewa, kekasihku yang lain. Yang nyata, ada dan aku bisa merasakan kehadirannya. Seperti aku bisa menghayati setiap nafas di pantai ini. Setiap suara, setiap detil dan setiap perasaanku menerjemahkan kesendirianku di sini, sampai tiba waktu untuk beranjak pulang lagi.

Setelah semua pohon kelapa dan orang-orang  merupa siluet, aku pun beranjak. Celana panjang melekat basah. Dan aku menuju rumah dengan rasa yang sama setiap harinya. Dengan pertanyaan yang sama. Adakah senja di pantai akan menjadi kekasihku selamanya? Bukankah aku  manusia biasa juga yang ingin punya kekasih yang sebenarnya? Aku berharap senja di pantai akan menjadi bagian diriku selamanya. Kami akan bercumbu bertiga: aku, pantai dan  kekasihku sesungguhnya. Seorang wanita yang keluar dari fatamorgana. Membayang dalam impian, berbisik dalam harapan. Wanita yang tiap lekuk wajahnya kuhias dalam angan.

Kutinggalkan senja dan membersihkan diri untuk mandi dan shalat magrib. Hari ini usai sudah aku mencumbui senja dengan keindahan pantainya.





sumber gambar : travel.detik.com


                                                                               ***
Posting Komentar