Minggu, 30 Juni 2013

Kumasukkan Cintaku ke Dalam Kardus



"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."

Aku terdiam seketika seolah mati  rasa. Badan lunglai tak menggapai pikiran yang terbang entah kemana. Mataku langsung berkaca-kaca. Dan tak lama kemudian pipiku membasah oleh jeram air mata yang terlanjur tumpah dan susah dihentikannya. Sulit menggambarkan apa yang kurasakan. Aku seperti melayang pada kenangan. Belum lama, ya sebulan yang lalu. Aku masih ingat binar bola matanya, sumringah senyumnya. Dan kata-kata yang begitu memberondong dari mulutnya. 

“Aku mencintaimu Wi, bahkan sangat mencintaimu. Rasa itu tidak pernah mati sampai sekarang.” Begitu berapi-api ia menjelaskan. Sampai-sampai aku tak sempat berpikir untuk mencari kebenaran kata-katanya. “Sampai saat ini, Wi. Bahkan aku sangat bahagia bisa bertemu lagi denganmu di sini!” 

Dia bukan seorang penggombal. Seratus persen bukan. Aku mengenalnya bertahun-tahun. Aku sampai hapal karakternya. Itu karena kami dulu begitu dekatnya. Ibarat satu mata uang dengan dua belahan. Begitulah kami dulu.  Atau seperti lem dan perangko, melekat kuat. Atau seperti banyak dikatakan oleh teman-teman, dimana ada Dewi  di situ ada Soen. Soen dan aku adalah dua foto dalam satu bingkai. 

Tetapi sekarang, aku merasa hatiku diterjang badai hujan.  Perasaanku mendidih bergejolak panas merajam. Ketika kupandang layar monitor, tambah sakit kepalaku. Kueja kembali satu kata itu ‘menikah’. Tapi kata itu benar ada, nyata dan aku tidak salah melihatnya. 

Kuambil handphoneku dan memberanikan diri untuk menanyakannya. Tetapi aku merasa begitu ringan. Tenagaku menguap ke udara. Pandanganku kabur menghitam. Tiba-tiba gelap. Dan aku hilang entah kemana.
***
Aku benci tempat ini. Tempat ini sering memisahkan aku dan Soen sekian lama. Soen mencari dan kehilangan. Aku sembunyi dan tak mau ditemukan. Berat berpisah sementara dengannya. Tak ada tawa renyahnya. Tak ada gandengan tangannya, tak ada perhatiannya. Tetapi kini memang tak ada dia untuk selamanya. Soen sudah beristri dan tidak akan peduli padaku lagi. Padahal sudah kusembunyikan penyakitku bertahun-tahun padanya.

Rambutku sudah banyak yang rontok, Aku nyaris botak. Tapi Soen tak pernah tahu kalau aku sakit.  Aku menutupi banyak hal agar  Soen tidak curiga padaku.  Termasuk mengenakan kerudung agar Soen tetap mencintaiku dan mau menikah denganku. Tetapi....

Rupanya aku hanya tiga hari di rumah sakit. Rutinitas pengobatan yang membosankan itu kini benar-benar membuatku bosan. Aku pasrah dan merasa lelah. Tak ada artinya lagi berjuang, untuk apa. Pria yang kucintai setengah mati dan katanya sangat mencintaiku itu ternyata pendusta besar. Aku telah kalah karena telah ditipu mentah-mentah olehnya.

Aku menjalani kembali aktivitas seperti biasanya. Lebih tepatnya aku sedang menghitung hari kematianku.  Tapi aku tak mau menyia-nyiakan sesuatu. Mumpung masih ada tenaga, mumpung masih ada kesempatan.

Aku segera mengambil sejumlah barang yang kusimpan laksana pusaka. Sebuah sapu tangan biru yang selalu dipinjamkannya untuk mengusap airmataku, buku harian kecil hadiah ulang tahun untukku, mug bergambar anak kecil lucu, semua itu aku simpan baik-baik.  Aku menganggap itulah lambang cintanya padaku. 

Tapi kini, satu-satu barang itu kupindahkan tempatnya. Aku tak ingin membawa cintaku ke alam kubur. Biarlah cintaku masuk ke dalam kardus saja. Setelah kumasukkan sepucuk surat, aku segera  mengikatnya erat. Tertutup rapat. Suatu saat akan terbuka, setelah aku tiada. 

***

Posting Komentar