Jumat, 06 Juli 2012

KOLIBRI, SI BURUNG SOMBONG


Karya : Dewi Iriani
Kerajaan burung mendapat satu pendatang baru. Ia adalah Kolibri. Semua burung menyambutnya riang. Kolibri adalah si burung kecil. Ia lincah dan ramah. Suaranya juga cukup bagus. Hanya sayang ia sangat sombong. 

Suatu pagi ia mengobrol dengan teman-temannya, si burung Pipit dan si burung Perkutut. 

“Aku memang terasing sebelumnya. Tapi sekarang aku bergabung dengan kalian di kerajaan burung ini. Sungguh, setelah kuperhatikan, ternyata hanya akulah yang mempunyai keahlian yang cemerlang,” sombongnya.

Kedua burung berpandangan.

 “Si Pelikan, ia bisa menangkap ikan di dalam air. Raja kita, sang Elang, bisa menangkap seekor anak ayam dengan cepat. Aah, kalau itu kan biasa, “ ledeknya. 

Kedua burung berpandangan lagi. Mereka penasaran apa sih kelebihan si Kolibri ini. 

Si Kolibri tersenyum cengengesan manakala kedua temannya kelihatan penasaran.

“Kamu bisa bernyanyi bagus seperti kutilang ya?” Tanya si burung Pipit. 

 “Tidak,” jawabnya pendek.

“Oh, kamu bisa memanggil hantu malam seperti si burung Hantu?” Tanya si Perkutut.

“Tidak,” tegasnya lagi.

“Jadi?” Kata mereka berbarengan. 

Aku dapat terbang mundur,” bangganya sambil mengangkat kepalanya.

“Hah?” Kedua mulut burung itu menganga.

 “Pernahkah kalian melihat burung lain terbang mundur?” 

Keduanya menggeleng. 

“Aku bisa,” penuh percaya diri Kolibri berkata. “Mari kutunjukkan.” 

Lalu ia pun mulai terbang mundur, pertama perlahan, lama – lama cepat, terus berkeliling. Kedua burung yang sedang bertengger di batang pohon tua itu takjub. Belum pernah selama ini mereka melihat ada burung yang bisa terbang mundur. 

Dengan bangganya si Kolibri terus terbang, disaksikan teman – temannya. Ia mulai memejamkan matanya. Merasakan segarnya tiupan angin menerpa badannya. 

Kedua burung mulai benci melihat tingkahnya. Diam – diam mereka pergi meninggalkannya. 

Tinggallah hanya si Kolibri yang masih terbang mundur. Ia terbang , terbang dan terbang terus. Saking asyiknya ia menjadi kurang berkonsentrasi dan menabrak pohon kaktus besar di belakangnya. Pohon kaktus itu penuh dengan duri-duri yang tajam. 

“Aduh!” Pekiknya. Sekujur tubuhnya berdarah. Sebagian bulu – bulunya jatuh. Ia berteriak – teriak minta tolong. Tapi betapa sedihnya, karena dua temannya sudah tak ada di tempatnya lagi. Ia coba kepakkan sayapnya. Tapi sayapnya terluka dan ia tak bisa terbang hanya dengan satu sayap. Kakinya pun terkilir sehingga ia hanya diam di tempat. 

Airmatanya mulai berlinang. Ia menyesal karena telah sombong. Sehingga karena kesombongannya itu teman – teman tidak menyukainya, kemudian meninggalkannya. Ia sadar kini, setiap burung diciptakan Tuhan dengan kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Itulah mengapa ia tidak boleh sombong. 

Dikuatkanlah kakinya untuk bergeser sedikit demi sedikit. Tekadnya ingin sampai di bawah pohon beringin, tempat di mana burung hantu tidur. Ia akan membangunkannya untuk meminta pertolongan. Namun sayang, sebelum niatnya kesampaian, dari balik pasir keluar ular besar dan langsung menyantapnya dengan lahap.

 * * * 

Catatan : cernak ini pernah dimuat di majalah Mentari Surabaya no. 576 tahun 2011.
Sumber gambar : Google Image.

Posting Komentar