Sabtu, 30 Juni 2012

ROTI BUAYA, EKSIS DALAM TRADISI

Mengingat kata buaya, yang terpikir adalah binatang besar di air yang beramai-ramai mengganjang mangsanya di sungai. Sadis. Tapi mendengar kata roti buaya yang terbayang adalah makanan lucu di atas nampan. Kadang ada hiasan di sekelilingnya. Manis. Kontras sekali kesan yang ditimbulkannya. 

Dan aku sedang memikirkan kenapa hiasan hantaran dalam pernikahan adat Betawi itu kok roti buaya ya. Mengapa tidak dua burung merpati atau burung merak atau bebek atau apalah yang lucu-lucu. Coba kalau dua roti panda atau koala mejeng di atas meja, pasti indah kelihatannya. Apalagi kalau ada satu anaknya neplok di punggung induknya. Hihihi…Tapi ini? Buaya gitu lho!

Selidik punya selidik, ternyata tidak sembarang binatang terpilih menjadi lambang dalam adat pernikahan. Keberadaan buaya sendiri dalam bentuk roti telah dikaji dan diamati oleh para leluhur kita. Konon buaya itu sangat pas dikategorikan sebagai lambang kesetiaan.

Menurut pengamatan para leluhur kita, hal itu berdasarkan pada sifat sabar yang dipunyai sang buaya. Lihat saja, dia sanggup mengintai mangsanya dengan seolah menjadi patung dalam waktu yang lama. Tenang, penuh strategi dan pemikiran. Dalam menunggu mangsanya ia mencari waktu yang tepat agar sasarannya tidak meleset. Dan apa yang terjadi, kesigapannya yang dipadu kesabaran itu sanggup membuat buaya mendapatkan apa yang menjadi targetnya.

Beberapa leluhur menambahkan kalau buaya adalah lambang kejantanan juga. Mungkin karena ukuran tubuhnya yang besar. Hidupnya pada dua alam diartikan sebagai harapan agar keadaan rumah tangga dalam kondisi apapun agar tetap bisa tangguh. Buaya juga selalu pulang kembali ke sarangnya. Dan itu merupakan sebuah bentuk anti perselingkuhan. Itulah sebabnya buaya juga dikatakan binatang yang setia. Konon kesetiaannya utama karena mengisi kehidupannya hanya dengan satu pasangan. 

Selain itu, roti buaya juga melambangkan kemapanan. Roti buaya dianggap sebagai makanan kelas atas. Berbeda dengan waktu jauh sebelumnya, roti buaya dibuat hanya dari singkong saja. Tetapi semenjak bangsa Eropa masuk ke Jakarta, masyarakatpun menggantinya. Alasannya, karena menjadikannya roti terasa jauh lebih praktis. 

Pada adat pernikahan Betawi, tugas pengantin prialah yang membawa roti buaya. Roti sepanjang kurang lebih 50-70 cm itu diberikan saat acara serah-serahan. Simbol di balik itu apalagi kalau bukan kesetiaan dan janji sehidup semati. 

Uniknya lagi, simbolisasi keluarga bahagia itu ditandai bukan oleh keberadaan satu buaya saja. Tetapi terdiri dari dua roti buaya yang ukurannya tidak sama. Roti buaya yang lebih kecil dianalogikan sebagai sang betina. Biasanya diletakkan di samping roti buaya yang lebih besar. Tetapi ada juga yang disimpan di atas punggung buaya yang jantan. Kesatuan dalam lahir dan batin, jiwa dan raga, seia sekata sampai terlahir anak, cucu dan maut yang akan memisahkan mereka. 

 Roti ini kemudian dibagikan setelah akad nikah. Biasanya diberikan kepada saudara yang belum menikah. Maksudnya supaya jodohnya segera datang. Tapi percaya tidak percaya, rasa roti buaya ini tidak istimewa-istimewa amat. Lebih kepada tawar, kurang manis, kurang asin dan kurang enak. Kalau sekarang sudah ada yang memodifikasi dalam variasa rasa yang lebih menggairahkan lagi. Sebut saja sudah ada roti buaya berasa coklat atau stroberi. Dan kualitas rasa itulah yang menentukan harga sepaket roti buaya. Mulai dari Rp.150.000,- per paketnya, bahkan ada yang menetapkan harga setengah juta rupiah. Hal itu juga menunjukkan kemampuan ekonomi atau status sosial si pengantin pria. 

Ternyata, roti buaya tidak hanya ada pada perayaan pernikahan Betawi. Di daerah Sunda, roti buaya juga didapati pada anak yang selesai disunat. Kehadiran roti buaya mempunyai dua tujuan. Selain untuk menyenangkan hati anak, hal itu juga menunjukkan kedudukan sosial orangtuanya. Selain anak diberi hadiah berupa sarung, baju koko dan peci, anak juga melakukan melihat hiburan berupa sisingaan atau kuda renggong, benjang dan lainnya. Makanan yang disediakan pun lebih istimewa. Ada bakakak ayam dan tak lupa roti buayanya. Begitulah keberadaan roti buaya mewarnai simbol tradisi dan penyemarak hidangan.

Satu saran penting, jangan membeli roti buaya secara mendadak sekalipun di toko roti ternama. Roti buaya tidak dihadirkan utuk dikonsumsi keseharian tapi pada waktu khusus hajatan. Jadi lakukan pemesanan sebelumnya. 

Kita dapati tradisi menghadirkan roti buaya itu masih berlangsung sampai sekarang. Jadi, tidak ada salahnya jika kita juga ikut melestarikan. Hidup roti buaya!
Posting Komentar