Senin, 28 November 2011

AKHIRNYA AKU PUNYA BUKU JUGA

Pagi itu udara sungguh cerah. Di luar burung-burung bernyanyi bersahutan. Tuit-tuit… trat..trat..trat..trat.. Keceriaan itu tentu saja berpengaruh pada suasana hatiku. Sambil menunggu nasi masak di kompor gas, aku mulai tak-tik-tuk memijat tuts-tuts keyboard komputerku. Rasanya semangatku menyala. Ada tantangan baru yang sepertinya kena sekali dengan mood-ku. Menulis antologi tentang cinta.

Cinta, seperti yang kita tahu adalah hal yang universal. Begitu dekat dengan diri kita. Apalagi ini menceritakan episode pengalaman pribadi. Aku pikir aku pasti bisa, walau masih berpikir tentang cerita mana yang akan kutampilkan. Akhirnya aku memutuskan untuk berkisah tentang seorang pria yang sangat mengesankan. Dialah satu-satunya pria yang pernah marah padaku.

Mulailah aku menjalin kalimat agar berkumpul dalam paragraf. Aku berhasil menyelesaikannya walau sempat kuberhenti sebentar. Alarm di hapeku bernyanyi,. Itu pertanda nasi sudah matang dan kompor gas harus segera dimatikan. Segera aku mengipas-ngipas nasi sambil membaca karyaku.

Wah, berantakkan! Ide cerita melompat-lompat. Sama sekali tak ada keutuhan. Aku bertutur terlalu melebar, kemana-mana, tanpa bisa fokus pada satu titik tema. Pikirku, tak apa nanti bisa kuedit juga.

Tiba-tiba ada tulisan muncul di layar. “Insert your Windows Xp Professional service.” Komputer jadi sangat lemot, tanpa sempat aku save tiba-tiba layarnya menutup, filenya hilang dan ketika kubuka kembali naskahku sudah tidak ada lagi. Hiks.

Kesalnya bukan kepalang. Tentu saja aku tak bisa mengulangnya. Karena saatnya aku memasak, beres-beres kemudian siap-siap untuk berangkat kerja. Waktuku yang sedikit itu jadinya sia-sia.

Pun hari berikutnya, komputer tiba-tiba mati sendiri padahal baru beberapa menit kubuka. Tanpa sempat mengetik sampai satu paragraf pun. Dipaksakan tetap tak bisa. Sebentar mati dan mati lagi.

Maka dengan rasa sedikit malu aku numpang mengetik di komputer adik perempuanku. Tapi di tempat berbeda aku malah tak punya ide sama sekali. Aku memang menulis beberapa halaman, tapi isinya acak-acakan. Aku berjanji besok harus kuperbaiki lagi.
Wah, hari ini tak bisa pinjam komputernya lagi. Anak-anaknya sedang asyik bermain game. Maka aku mengetuk rumah adikku yang bungsu, aku mengetik di sana. Tapi tidak ada ide yang bisa keluar dengan lancar.

Sesampai di rumah aku termenung saja. Aku telah menyia-nyiakan satu kesempatan. Besok adalah deadline pengajuan naskah. Sebelumnya, sekitar tiga puluh lebih naskah kukirim untuk kompetisi, hanya ada satu yang berhasil. Tapi penerbitnya tiba-tiba menghilang. Hal itu membuat ciut semangatku.

Kegembiraan yang menyembul menyurut kembali. Tapi aku ingin meraihnya lagi. Aku sangat ingin melihat naskahku dalam bentuk buku. Maka aku harus mengikuti kompetisi ini, tekadku berapi-api.

Di rumah aku orat-oret naskah, memaanfaatkan waktu yang tersisa di antara tugas rutinku di rumah dan sisa waktuku bekerja di luar rumah. Aku menulis di kertas yang kusobek dari buku tulis anakku. Tetapi, sungguh beruntung karena naskahku selesai juga. Aku lalu pergi ke depan, ke warnet punya adik keduaku untuk ikut mengetik. Tapi walaupun masih pagi, warnet sudah penuh pengunjungnya. Satu jam lagi aku balik, masih penuh juga. Aku sudah pasrah, sepertinya aku tak akan bisa ikut bergabung dalam antologi itu.

Sepulang kerja aku merasa cape. Sekitar jam lima sore itu aku mencoba mengetik lagi di rumah adik perempuanku. Selesai. Aku mempunyai sedikit harapan. Tapi ketika aku membaca ulang naskahku. Aku dibuat sedikit down. Isi naskahku sangat berantakkan. Ada dua tema di dalamnya. Aku bingung untuk mengeditnya. Aku lihat jam sudah hampir jam enam. Huh.

Tapi aku melihat masih ada waktu beberapa jam sebelum palu deadline diputuskan. Aku lalu mengambil salah satu tema dan mengembangkannya. Ajaib tulisanku runtut, aku hanya memperbaiki ejaannya dan beberapa kesalahan pengetikan. Ketika kubaca kembali, aku cukup puas. Tapi ketika kutekadkan untuk mengirimnya, ada setan yang mencoba menggelitik hatiku. Dia berbisik,” jangan dikirimkan, itu kan kisah pribadimu, hanya akan mencerminkan siapa kamu sebenarnya. Mending kalau orang melihat sisi kamu sebagai sebuah sosok yang positif, kalau sebaliknya?” Aku lalu menimbang-nimbang. Aah, aku tak peduli orang mau menganggapku seperti apa. Aku kan hanya bercerita satu fragmen kecil saja, jadi kemungkinan salah faham itu ada. Aku tak peduli. Kumantapkan mengirimnya malam itu juga.

Tetapi lagi-lagi setan merayu. “Hei lihat, naskahmu memuat tentang profil seseorang. Pertimbangkan itu dengan baik. Jangan-jangan dia merasa keberatan.”
Aku diam, cukup terpengaruh dengan bisikannya. Aku pikir benar juga, bagaimana kalau orang yang kuceritakan tahu dan merasa keberatan.

Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya? Aku menimbang-nimbang itu cukup lama. Tapi naskah tetap aku simpan dalam flashdisk. Perkara dikirim atau tidak aku akan memutuskan sesudah aku shalat.

Dan sesudah aku shalat, aku tekadkan untuk mengirimnya. Bismillah, akhirnya naskahku terkirim sudah. Setelah beberapa lama semenjak itu, aku terlonjak gembira. Naskahku ternyata lulus seleksi. Senangnya. Apalagi kemudian bukunya terbit.

Sekarang buku Gado-Gado Cinta itu sudah di tanganku. Malahan aku punya dua sekaligus. Juga buku-buku lain yang lahir di tengah perjuanganku bergelut dengan komputer jadul yang sering sekali rusak. Ya, komputerku sering menginap di tempat servis. Selain karena alasan kena virus, baik monitor, cpu, hardisk dan lainnya berteriak minta ganti yang baru. Wah, wah, wah.

Hm, akhirnya aku harus mengatakan : sungguh menyenangkan ya menjadi penulis. Bahkan perjuangannya terasa nikmat juga. Belum pernah aku menemukan profesi senikmat menjadi penulis. Ketika naskah selesai diedit dan terkirim, rasanya aku menjadi balon. Kemudian meletus di angkasa dan melayang-layang mencari tempat singgah. Seperti ideku yang melayang-layang mencari penerbit. Hihihi…Akhirnya aku punya buku juga. Senangnya.

2 komentar:

Avi Nungky Hartono mengatakan...

Dua jempooolll .... !!!
Perjuangan kalo berbuah bener2 indah ya Mbak :)

Unknown mengatakan...

Begitulah Mbak Avi, mungkin benar kata orang, hidup adalah perjuangan.