Jumat, 03 Mei 2013

Seri Ife dan Tsuraya 01 : Ilalang Kuning

Sumber gambar : Hi5


Ife menatap ke atas rumah bertiang tinggi itu. Ia berharap sahabatnya, Tsuraya akan segera turun. Kemarin  mereka berjanji untuk bermain ke padang ilalang lagi. Tetapi akhirnya Ife begitu senang. Ia  melihat sahabatnya itu muncul di jendela. Senyumnya manis sekali. Tangannya melambai dengan riangnya. Ife segera memberi kode padanya untuk segera turun.

Tak! Tak! Tak! Satu per satu Tsuraya menuruni tangga. Ife menunggunya dengan mata berbinar. 

"Aku merindukan capung dengan warna merah dan hitam. Aku ingin menangkapnya dan menyimpannya di rumah," Tsuraya langsung bercerita.


 "Kalau aku rindu belalang. Yang coklat, yang hijau, yang besar dan yang kecil. Semua ingin kukumpulkan dan kutangkap. Untuk kemudian kulepas ia di taman depan rumahku agar bermain-main di sana."

Mereka tertawa. Lalu berlari sambil berpegangan tangan. Tak berapa lama sudah sampai di padang ilalang.
  
 "Bosan, kenapa rumput-rumput ini berwarna hijau semua. Mereka hanya punya sedikit warna merah pada bunganya," gerutu Tsuraya.

"Jadi kau ingin semua rumput ilalang ini berwarna apa?" Ife bertanya.

"Kuning keemasan!" Teriak Tsuraya riang.

"Tapi kan itu tidak mungkin, Aya," Ife mencoba menjelaskan.

Tsuraya cemberut. Ya, ia ingin ilalang itu berwarna kuning. Karena seperti yang diceritakan neneknya, hal itu bisa membawa kebahagiaan pada anak-anak. Karena ilalang bisa mengeluarkan warna keemasan yang sangat indah.

"Kata nenekku, para peri akan turun dan mengabulkan keinginan anak yang baik," Tsuraya setengah berguman.

 "Kau sudah berbuat baik hari ini?" Ife bertanya dan menarik sahabatnya duduk bersama.

"Aku sudah membantu ibu mengangkat air dari sungai untuk minum. Aku juga menyimpan baju kotorku di tempatnya," cerita Tsuraya panjang lebar.

"Ya, mudah-mudahan peri itu datang dan mengabulkan permohonanmu," Ife berharap.

Tetapi tiba-tiba mereka melihat titik kecil berwarna keemasan nun jauh di langit sana. Semakin lama semakin dekat. Mulut mereka menganga. Ada seorang peri kecil yang sangat cantik terbang dekat mereka.

 "Hai," sapanya. "Kamu Ife, bukan? Dan kamu Tsuraya, ya? Aku Peri utusan untuk anak-anak yang baik."

Kedua anak itu menganggukkan kepalanya. Mereka berdiri sambil berpegangan tangan.

"Ife, kamu tidak punya permintaan?" Mata peri itu tertuju pada Ife.

 Ife menggeleng.

Tetapi kemudian, " aku hanya ingin permintaan sahabatku dipenuhi."

Peri itu tersenyum.

"Kau boleh mengajukan satu permintaan, Sayang," suara peri sungguh merdu. Matanya lembut memandang Tsuraya.

Sejenak Tsuraya diam. Kemudian ia pun mengatakan sesuatu.

"Bi...bisakah padang ilalang ini berganti warna menjadi kuning kemasan?" Terbata ragu kata-kata Tsuraya.

"Seperti yang kau inginkan," Sang Peri kemudian melambaikan tangannya. Baru saja ia menggerakkan tongkat ajaibnya. Dan ketika kedua anak itu tersadar, mereka pun takjub dan suka cita. Bagaimana tidak, padang ilalang telah berubah warna menjadi kuning keemasan.

"Woow..." kagum mereka berdua senang. Lalu mereka berlarian, berkejaran sambil tertawa riang. Tetapi kemudian ketika merasa cape, Tsuraya pun terdiam.

"Kemana teman-teman kita para capung yang bisanya terbang mengelilingi kita?" Tsuraya heran.
  
"Ya,  belalang dan kupu-kupu itu juga dimana?"

"Mereka tidak mau datang ke padang ilalang keemasan!" Teriak mereka berbarengan.

"Kalau begitu, aku lebih suka kehadiran mereka dari pada keindahan ilalang keemasan tapi sepi teman-teman."

"Aku juga."

"Mari kita panggil utusan peri untuk mengubah kembali ilalang seperti semula."

"Tiba-tiba utusan peri sudah ada di dekat mereka."

"Kalian membutuhkanku, ya?"

"Kami ingin ilalang ini kembali seperti semula."

"Maaf kalian harus berbuat baik dulu. Jika sudah, aku akan mengabulkan keinginan kalian kembali."

Mereka pun pulang saling berdiam diri.

"Ternyata kita tidak boleh sembarangan dalam mengambil keputusan."

"Ya."

Sesampai di rumah, seperti biasa mereka lalu membantu ayah dan ibunya.

Besoknya utusan peri datang dan mengabulkan permintaan mereka. Kedua anak-anak itupun senang. Mereka bermain kembali dengan kupu-kupu, capung, belalang dan binatang lainnya dengan suka hati.

***
Posting Komentar