Sabtu, 27 April 2013

Be-Bob Memang Mantap




Berita gembira bahwa aku diterima bekerja di salah sebuah bank swasta di Pekanbaru ternyata membuat hatiku ciut waktu itu. Bagaimana tidak. Aku harus beres-beres pakaian sendiri, cari tiket pesawat sendiri, pergi ke bandara sendiri dan membeli semua keperluan kerjaku sendiri. Hiks, rasanya ingin menangis saja. Tak ada seorang pun yang bisa membantuku.  Seluruh keluargaku  sudah lama pindah ke kota itu.



Untungnya ayahku menyuruh om membantuku. Maka urusan tiket pesawat dan orang yang mengantarku ke bandara terselesaikan sudah. Begitu pun baju-baju yang akan aku bawa sudah kubereskan semua. Tetapi ayahku hanya mengirim aku uang pas-pasan untuk membeli keperluan kerjaku berupa tas dan sepatu. Maka diantar omku aku pergi ke pusat perbelanjaan mencari barang-barang itu. Pertama om yang memilihkan tas kerjaku. Harganya bagiku cukup wow. Tapi om berbaik hati mentraktirku.




Giliran beli sepatu, hatiku terhenyak karena harga dibandrol sepatu itu benar-benar pas dengan uang yang ada di sakuku. Ditraktir om lagi tak mungkinlah, gengsi dong aku. Cukuplah hanya membelikan tas. Maka aku mulai mencari sepatu sesuai uang yang kupunya. Tetapi setelah berkeliling lama, aku tetap tak menemukannya. 


Kukemukakan alasan kepada omku bahwa aku takut jatuh jika harus memakai sepatu high heels. Padahal aku mencari harga yang murah tapi nyaman di kakiku. Om tetap ngotot agar aku membeli sepatu resmi berhak tinggi. Karena tak ada yang kupilih, om lalu mengajakku ke tempat sepatu lainnya.



Di tempat baru itu, aku mencoba sepatu ini dan sepatu itu. Tetapi tetap saja, kaki ini merasa tidak nyaman dengan sepatu-sepatu yang ada. Ada yang modelnya aku suka, tetapi tidak nyaman di kaki. Kakiku memang mempunyai sedikit kelainan. Bentuknya agak melebar ke tepi. Orang Sunda menyebutnya “jebrag”.

 
Kakiku memang "jebrag", mau bagaimana lagi?


Ternyata susah sekali mencari sepatu yang tepat. Bukan sekedar modelnya yang bagus. Tetapi lebih nyaman  untuk kaki, tidak kesempitan dengan hak yang tidak terlalu tinggi. Dalam keputusasaan akhirnya kami menemukan sepatu merek Be-Bob. Dalam hati aku berteriak senang karena ketika aku pakai, nyaman sekali rasanya. Sayang, harganya cukup mahal bagi kantongku saat itu. Tapi omku adalah salah satu orang paling baik dalam keluarga, ia tak segan mengeluarkan isi kantongnya. Aku pun terlonjak bahagia dan berulang kuucapkan terima kasih padanya.


Sesampai di rumah akupun bolak-balik mencoba. Jalan ke sana, jalan ke sini bak peragawati saja. Hal itu kulakukan tiap hari sebagai latihan pembiasaan. Pada akhirnya aku tak canggung lagi ketika pertama kali menggunakan high heels masuk kantor. 



Maka, mulailah hari-hari memakai high heels.  Ajaib, sepatu baru itu tidak membuat aku lecet. Padahal kerjaku hampir banyak berdiri, melayani nasabah. Dan teman-teman baru memuji model sepatu yang kata mereka unik. Aku senang sekali. Karena sepatu yang bagus, aku cepat akrab dengan teman-teman kerjaku.



Tapi lama-lama aku merasa perlu mempunyai sepatu cadangan, masa untuk kerja hanya punya satu. Maka akupun keliling toko di Pekanbaru. Tanpa lelah aku langsung mencari merek Be-Bob seperti di Bandung. Tetapi tidak ditemukan, aku pun mencoba banyak model lain. Tapi selalu merasa tidak cocok, sampai akhirnya aku pulang dengan perasaan dongkol luar biasa. Karena terlalu pilih-pilih, salah seorang karyawan toko mengeluh setengah memaki seperti ini, “susah sih mencari sepatunya, karena kakinya mirip daun talas.”



Aku menjadi sedih. Setibanya di rumah kepikiran terus penghinaan itu. Kakiku memang demikian, tetapi aku mensyukurinya. Tetapi kenapa mereka malah menghinanya? Dan bagaimana sepatu cadanganku? Akhirnya sebuah ide muncul di kepala. Minta bantuan saudara membelikannya di Bandung! Lalu mengirimkannya padaku. Model bebas asal sepatu untuk kerja.



Oh my God, hari demi hari aku penasaran menunggu datangnya sepatu Be-Bobku yang baru. Waktu itu belum  musim hape, jadi aku dan saudaraku berkomunikasi via telepon rumah. Saudaraku menceritakan kalau Be-Bob modelnya memang bagus dan kualitasnya oke. Tapi harganya agak sedikit mahal dibanding merek lainnya. Tapi aku tak perduli harga. Yang penting kualitasnya oke. Alias nyaman untuk kakiku. Aku juga tak peduli harus membeli uang lebih untuk saudaraku sebagai ongkos beli, bungkus dan biaya kirimnya.



Sampai suatu hari sepatu itu datang. Dan hal itu menjadi kejutan yang sangat menyenangkan. Sepatu baruku jadi pusat perhatian. Teman kerjaku banyak yang pesan. Tapi aku tidak berkenan. Saudaraku kan orangnya sibuk. Walau kemudian seorang teman asal Bandung ternyata bisa memakai Be-Bob juga dengan cara sama sepertiku. Dan sepatunya dipuji-puji juga.


Ketika akhirnya kerjaku minta mutasi ke Bandung, Be-Bob jadi fashionable daily shoes. Selain sepatu kerja, aku pun membeli sepatu ketsnya untuk senam. Sudah puluhan tahun lho sepatu senam ini masih kupakai. Awet sekali. Nih, lihat modelnya, unik kan? Apalagi ketika masih baru, kece deh!

 
Sepatu olah raga Be-Bobku yang usianya sudah belasan tahun.

Sandal dan sepatu Be-Bob paling nyaman untuk kakiku.

Aku juga membeli sandal untuk main. Mereknya Be-Bob juga. Aku sangat percaya dengan kualitas dan modelnya, sesuai selera aku banget. Memakai Be-Bob memang membuatku sangat percaya diri. Sandal tidak akan copot di jalan. Maklum sering terjadi sandal copot karena kakiku memang mempunyai sedikit kelainan. Dan pernah beberapa kali aku terpaksa membeli sandal baru karena tiba-tiba sandalku rusak saat jalan-jalan. Hahaha….



Thanks Be-Bob, aku percaya diri memakainya.
Dengan Be-Bob, aku nyaman pergi kemana-mana. Pergi kerja, pergi shopping, pergi nonton, pergi kencan, bertamu ke rumah saudara. Sayang foto-fotonya tidak ada. Coba kalau ada, entah berapa banyak sepatu dan sandal merek Be-Bob yang kupunya sampai sekarang. 


Satu harapanku, hendaknya  Be-Bob shoes jangan sampai hilang. Karena aku sudah fanatik dan tidak berminat berganti merek lain untuk flat shoes dan sepatu. Bahkan saat ini sedang mengumpulkan uang karena mengincar model wedgesnya yang keren. Be-Bob memang mantap!



***





Posting Komentar